Fatih menatap wajah Rany. Wajah cantik yang terlihat sangat sendu. "Kenapa?" tanya Fatih pelan menyelidik. Rany pun menghembuskan napasnya kasar. Bingung hrus memulai dari mana ia bercerita tentang kehidupannya. Belum lagi kebohongannya tentang sandiwara ini bersama dokter Andrew tentu akan mudah terdeteksi "Kenapa diam? Masih tidak mau membuka jati diri kamu?" tanya Fatih pelan. "Bukan itu. Banyak hal pertimbangannya, Fatih. Bukan masalah mau atau tidak mau, sanggup atau tidak sanggup, tapi ini masalah perasaan. Perasaan untuk tidk membuat seseorang kecewa dengan keadaan kita sebenarnya," ucap Rany dengan suara lirih. "Aku pasti bisa menerimamu, Rany. Rayyan saja bisa aku terima dengan baik, apalagi cuma keadaanmu? Masa lalumu? Apa?" tanya Fatih dengan rasa penasaran. Keduanya sama

