"Kamu terkejut melihat aku ada di sini?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Vian. Iya, Vian, lelaki biadab yang telah merenggut keperawanan Zya dan menitipkan benih di rahim Zya dan meninggalkannya begitu saja. Zya mengangguk kecil. Bukan lagi kaget, terkejut dan syok, atpi kenapa harus bertemu lagi dnegan lelaki biadab ini, di saat Zya sudah akan bahagia bisa menikah dengan Adam. Zya pura-pura tertawa dan terkekeh kecil. Dgub jantungnya yang semual berdetak dengan kencang saa melihat Vian, kini berangsur menghilang seiring dengan rasa tenang yang terus di kedepankan oleh Zya. Sikap Zya terhitung wajar dan seolah semua ayang telah terjadi adalah bagian dari masa lalu ynag kelam dan tak perlu di ingat lagi. "Aku tidak kaget. Biasa saja. Sudah terlalu sering melihat lelaki modus sepe

