Pagi ini, Dini mulai bekerja penuh di kafe milik Adam. Keduanya berangkat bersama. Dalam perjalanan menuju kafe itu keduanya terdiam membisu seolah sudah habis tema pembicaraan mereka. Dini memangku Rayyan yang anteng dalam gendongan Dini. Sesekali Adam melirik Dini yang duduk di sebelahnya. "Diam aja? Ngantuk?" tanya Adam pelan. Satu tangannya memegang tangan Dini yang berada di kaki Rayyan. Dini menoleh ke arah Adam dan tersenyum manis di balik cadarnya. Tangan Dini di cium dengan lembut, hingga Dini bisa merasakan betapa tulusnya rasa cinta dan rasa sayang Adam kepada Dini. "Ada yang membuatmu kepikiran?" tanya Adam pelan. "Tidak ada Mas," jawab Dini singkat. "Tetaplah percaya pada Mas," titah Adam sellau mengingatkan. Namanya perempuan sikapnya suka berubah, hatinya pun sering

