Mita tidak pernah takut dengan Adam. Adam itu anaknya tidak akan mungkin melakukan hl-hal gila yang berada di luar nalarnya. Mita tetap pada pendiriannya. Tetap pada keputusannya. Lagi pula waktu mereka sudah sangat sempit. "Ibu mohon kepadamu Adam. Tolong jangan gagalkan rencana ini, rencana yang sudah di rencanakan jauh-jauh hari. Kasihan Umi Ayu dan Aby Dian, mereka orang baik. Tolong jaga perasaan mereka," ucap Mita pelan dengan nada memohon. Mita menghampiri Adam yang masih berdiri di balik meja kerjanya. Wajahnya merah padam karena meluapkan semua emosinya, amarahnya, kekecewaannya dan kekesalannya yang campur aduk menjadi satu. Aliran darah Adam terus naik memuncak hingga ubun-ubun. Jantungnya terpompa dengan sangat cepat hingga napasnya memburu menahan amarah dan emosinya yang

