“Lo ke sini naik apa?” “Bawa mobil, ada sopir juga.” “Di mana sekarang?” “Gue taruh di stasiun. Biar istirahat sopir gue. Kalau udah pasti gue mau tinggal di mana, baru gue suruh datang.” Keduanya duduk bersebelahan di teras rumah Sekar yang kecil. Untuk sesaat Sahil ragu-ragu untuk duduk, melihat dipan bambu yang sepertinya sudah reot. Namun, karena lelah berdiri ia duduk juga. Mereka duduk berdampingan dalam diam. Mandala membiarkan Sahil mengawasi keadaan sekitar. Hingga sosok Sekar keluar dan menghidangkan dua gelas es teh manis. Sahil mengawasi Sekar dengan pandangan tertarik. Dari awal Mandala mengenalkan dirinya pada gadis itu, ia sudah terpikat dengan kecantikan Sekar. “Sekar, kamu cantiik sekali. Nggak ada niat ingin jadi artis ke ibu kota?” tanya Sahil sambil tersenyum. Me

