BAB 24

1617 Kata

“Ayolah, Sekar. Kita nonton atau makan sesuatu di mana begitu.” “Ndak bisa, Mas. Aku banyak tugas.” “Kamu itu selalu menolakku. Kalau memang kamu takut sama Nyai Sundari, kita bisa pergi ke kabupaten. Di sana ndak ada yang kenal kita.” Sekar menggeleng. “Ndak bisa, Mas. Maaf yo.” Gadis itu berbalik dan terdiam saat Thamrim mencekal lengannya. “Mas, ada apa?” “Sekar, tolonglah. Jangan selalu menolakku?” Belum sempat Sekar menjawab, terdengar suara deheman. Mereka menoleh dan melihat Mandala yang menatap dingin. “Kalian sedang apa di sini?” tanya Mandala tanpa senyum di wajah. “Nggak lihat di sini sepi, banyak nyamuk lagi.” Sekar menatap Mandala dengan bingung. “Kok kamu di sini? Mandala mengangkat bahu. “Mau jemput lo pulang.” “Tumben.” “Yah, pokoknya gitu. Mumpung gue lagi baik.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN