Siang telah sepenuhnya menghilang, berganti dengan gulita malam. Samar-samar dari kejauhan terdengar suara anak mengaji, diselingi oleh tetangga yang memutar lagu dandut dengan volume yang cukup besar. Mandala sudah pulang lebih dulu setelah Sekar memintanya. Ia ingin bicara dengan Minten hanya berdua. Bagaimana pun, Minten bukan hanya sekadar patner kerja tapi juga seorang sahabat. Saat ia butuh untuk bicara, butuh bahu bersandar saat luka, Minten ada. Kini, sahabatnya menuntut penjelasan dan ia akan mencoba menerangkan. Karena tidak ingin menyimpan rahasia sendirian. “Kamu marah sama aku?” tanya Sekar membuka percakapan. Terdengar helaan napas panjang, disertai gelengan kepala oleh Minten. “Ndak, Mbak Sekar. Bagaimana pun, setiap orang berhak jatuh cinta.” Suara Minten yang mengamban

