Roro Ratri menatap kesal ponsel di tangannya. Ia sudah menunggu cukup lama tapi laki-laki yang ingin ditemui tidak juga datang. Mereka harusnya ketemu dari tiga puluh menit yang lalu. Ia berdiri dengan kaki kesemutan. Tempatnya menunggu bukanlah tempat yang enak. Berada di pinggir sawah, di bawah naungan pohon, ia menyesal tidak meminta bertemu di tempat yang layak. Ia menatap kukunya yang dikutek merah. Meminta secara khusus pada Sekar untuk membantunya memoles. Bagaimana pun, sore ini ia harus tampil sempurna tapi sayangnya, hawa panas membuatnya keringatan dan mini dressnya mulai lepek. Ia menoleh saat samar-samar terdengar suara motor. Dari belokan muncul sesosok laki-laki berseragam menaiki motor matik. Laki-laki itu menghentikan kendaraannya di depan Roro Ratri dan berucap pelan. “

