Sesuai janji, mereka bertemu di pinggir jalan. Sekar meminjam helm dari Minten dan menunggu Mandala menjemput. Mengendarai motor, keduanya melaju kencang di jalan raya. Sekar merasa bahagia, melawan angin arah angin dan membebaskan diri untuk tertawa. la baru pertama merasa seperti ini, gembira seakan tanpa batas dan sekat. Motor yang dikendarai Mandala, melaju cepat di antara kendaraan-kendaraan besar. Jalan yang mereka lalui adalah jalanan lintas provinsi. Tidak aneh kalau lawan mereka di jalan adalah bus dan truk. Satu jam kemudian, keduanya sampai di alun-alun kabupaten. Sekar yang tidak pernah keluar dari desa, mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gembira. Ia tidak menolak saat Mandala membelikannya makanan. Berdua, duduk di bawah pohon menatap para pengunjung yang berlalu lala

