bc

Pengantin Sang Raja yang Sudah Mati

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
time-travel
curse
king
bxg
lighthearted
serious
rebirth/reborn
ancient
like
intro-logo
Uraian

Di Kerajaan Elarion, setiap pengantin yang memasuki Istana Kematian akan menghilang sebelum matahari terbit.Tidak ada jenazah. Tidak ada saksi. Hanya gaun pengantin yang tertinggal di depan pintu kamar sang raja.Elara Veyne tidak pernah percaya pada kutukan, sampai adik perempuannya terpilih menjadi pengantin berikutnya.Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Elara menggantikan posisi adiknya dan memasuki istana yang konon dihuni oleh seorang raja mati.Namun, pada malam pertama pernikahan mereka, pria yang muncul di hadapannya bukanlah mayat, melainkan seorang raja berwajah rupawan dengan tatapan sedingin musim dingin.Kael Arvand.Pria yang seharusnya telah meninggal seratus tahun lalu.Kael memberinya tiga aturan: jangan membuka pintu kamar di ujung lorong, jangan menjawab suara yang memanggil namanya setelah tengah malam, dan jangan pernah bertanya bagaimana sang raja bisa mengetahui masa lalunya.Elara melanggar aturan pertama pada malam ketujuh.Di balik pintu itu, ia menemukan puluhan gaun pengantin, sebuah cermin retak, dan tulisan yang membuat darahnya membeku.AKU SUDAH MEMBUNUHMU SEBELAS KALI. MENGAPA KAU SELALU KEMBALI?Tulisan itu menggunakan tulisan tangannya sendiri.Sejak malam tersebut, Elara mulai mengalami mimpi tentang kehidupan yang tidak pernah ia jalani. Dalam mimpi itu, ia adalah seorang ratu yang mencintai Kael, seorang penyihir yang menghancurkan kerajaan, sekaligus perempuan yang menancapkan belati ke jantung pria yang kini menyebutnya istri.Sementara itu, Kael semakin sulit dibedakan antara pelindung dan penjahat. Ia menyelamatkan Elara dari makhluk-makhluk yang hidup di balik bayangan, tetapi setiap kali Elara hampir mengingat masa lalunya, sang raja selalu menciumnya seolah ingin membungkam sesuatu yang lebih berbahaya daripada kebohongan.Elara mulai mencintai pria yang seharusnya ia takuti.Namun, di kerajaan yang dibangun di atas sejarah palsu, cinta bisa menjadi kutukan paling mematikan.Sebab ada satu rahasia yang bahkan Kael tidak berani ungkapkan kepada pengantinnya.Raja yang mati seratus tahun lalu bukanlah satu-satunya orang yang seharusnya sudah mati.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 - Pengantin yang Tidak Boleh Menangis
Hujan turun ketika mereka datang untuk menjemputku. Bukan hujan biasa. Airnya hitam seperti tinta, mengalir di sepanjang jalan batu dan meninggalkan noda yang tidak bisa dihapus. Kuda-kuda penarik kereta menolak mendekati gerbang rumah kami. Para pengawal harus menyeret mereka maju, sementara seorang lelaki berjubah hitam berdiri di depan pintu dan mengetuk tiga kali. Ibuku tidak membukanya. Ia malah menarik tanganku begitu keras hingga aku hampir terjatuh. “Elara, dengarkan Ibu baik-baik.” Aku belum pernah melihat wajahnya sepucat itu. “Apa pun yang terjadi malam ini, jangan biarkan mereka melihatmu menangis.” Aku menatapnya bingung. “Ibu bicara tentang siapa?” Ketukan keempat terdengar. Kali ini, pintu bergetar. “Pengantin untuk Raja Kematian,” suara seseorang terdengar dari luar. “Kami datang untuk mengambilnya.” Adikku, Mira, menangis di sudut ruangan. Ia baru berusia sembilan belas tahun, tetapi malam itu ia terlihat jauh lebih muda. Gaun putih yang dikenakannya terlalu besar, dan kedua tangannya terus meremas ujung kain. Namanya yang tertulis di surat kerajaan. Bukan namaku. Mira adalah gadis yang dipilih sebagai pengantin tahun ini. Dan jika aku membiarkannya pergi, aku mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi. “Aku yang akan pergi,” kataku. Ibuku langsung menamparku. Suara tamparan itu memecah keheningan. “Jangan pernah mengatakan itu lagi!” Aku memegangi pipiku yang panas. Untuk pertama kalinya, kulihat air mata jatuh dari mata ibuku. “Kael tidak boleh melihatmu,” bisiknya. “Kalau dia melihat wajahmu, semuanya akan terulang.” Aku membeku. “Siapa Kael?” Ibuku menutup mulutnya sendiri. Terlambat. Dari balik pintu, terdengar suara lonceng. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Aku menghitung tanpa sadar. Ketika dentang ketiga belas terdengar, semua lilin di rumah padam bersamaan. Dan dari balik pintu yang masih terkunci, seseorang memanggil namaku. “Elara.” Suara itu rendah, lembut, dan anehnya terasa akrab. Seolah aku telah mendengarnya ribuan kali dalam mimpi. Aku mundur selangkah. Ibuku memelukku dari belakang, menutupi telingaku dengan kedua tangannya. “Jangan jawab,” bisiknya putus asa. “Apa pun yang kau dengar, jangan pernah menjawabnya.” Namun suara itu kembali terdengar. “Elara, istriku.” Aku berhenti bernapas. Di luar rumah, lelaki berjubah hitam itu mulai membaca surat kerajaan. Setiap kata terdengar jelas, meskipun hujan semakin deras. “Dengan keputusan Raja Kael Arvand, pengantin yang dipilih untuk memasuki Istana Kematian tahun ini adalah—” Ia berhenti. Ada suara kertas disobek. Lalu lelaki itu berkata dengan suara gemetar, “Nama pengantin telah berubah.” Ibuku melepaskan pelukannya. Aku berbalik perlahan. Wajahnya kini bukan lagi wajah seorang ibu yang ketakutan. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja menyaksikan ramalan paling buruk dalam hidupnya menjadi kenyataan. “Tidak,” bisiknya. Dari luar, lelaki itu melanjutkan pembacaan. “Elara Veyne.” Mira menjerit. Aku tidak bergerak. Sebab pada saat yang sama, sebuah cermin tua di ruang tengah retak dengan sendirinya. Dan di dalam pantulannya, aku melihat seorang perempuan bergaun pengantin hitam berdiri tepat di belakangku. Wajahnya sama persis denganku. Ia tersenyum sedih. Lalu mengangkat satu jari ke bibirnya, memintaku diam. Bibirnya bergerak tanpa suara. Aku tetap bisa membaca kata-katanya. Jangan menikah dengannya lagi. Cermin itu pecah. Ketika aku menoleh ke arah pintu, seseorang telah berdiri di sana. Seorang pria tinggi dengan mantel hitam basah oleh hujan. Rambutnya gelap, kulitnya pucat, dan matanya berwarna perak seperti cahaya bulan yang terperangkap di dalam es. Ia tidak terlihat seperti orang mati. Ia terlihat seperti seseorang yang telah menunggu terlalu lama. Pria itu memandangku. Kemudian, di hadapan ibuku dan semua pengawal kerajaan, ia berlutut. “Ratuku,” katanya. Suaranya bergetar. “Akhirnya aku menemukanmu.” Ia mengangkat wajahnya, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di mata seorang raja. Ketakutan. “Maafkan aku,” bisiknya. “Kali ini, aku akan membiarkanmu membunuhku.” Bersambung.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.4M
bc

The Silver Wolf

read
542.9K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
881.8K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook