Pasha menatap Yaya dengan pandangan rumit. Perkataan gadis itu seperti panah yang menembus relung hatinya. Ia yang belum terlalu mengenal Yaya baru tahu setiap kata-katanya selalu penuh arti. Tapi kali ini, Pasha merasa seperti sedang disudutkan oleh kenyataan yang tak ingin ia akui. "Yaya ... saya hanya ..." Pasha mencoba berbicara, tapi suaranya tertahan. Ia menatap sendok di tangannya sebelum akhirnya menaruhnya kembali di atas nampan. "Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Itu saja. Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh." Yaya menghela napas panjang. Meski tubuhnya lemah, ia merasa harus mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Om, jangan membohongi diri sendiri. Yaya bisa menilai jika Om bukan tipe orang yang mudah menunjukkan perhatian. Tapi kalau perhatian itu hanya setenga