Malam itu Diandra sibuk mengucek matanya. Gadis yang kini tanpa kacamata itu merasakan ketidaknyamanan pada indra penglihatnya. Rasanya perih dan panas. Bahkan, obat tetesnya sudah tak bisa menolong. Ia hanya akan merasa enak sebentar, lalu rasa tak nyaman itu muncuk lagi. Hal itu benar-benar membuat Diandra bingung. Di saat itu ponsel Diandra berdering dan menampakkan wajah tampan kekasihnya. Diandra mengangkatnya. Mereka saling tersenyum. Namun, Narendra menyadari sesuatu yang berbeda pada penampilan Diandra. Matanya. Mata itu terlihat memerah. Tidak sejernih biasanya. Kelopaknya pun sedikit mengembung. Agak bengkak. "Mata kamu kenapa, Sayang?" tanya Narendra. "Iritasi." Dahi Narendra mengerut. Seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu ia bertanya perihal obat tetes anti iritas