Ruang rawat Kinara mencekam. Di sana, terlihat empat orang sedang serius bicara. Keempatnya sama-sama menampilkan wajah serius. Pembicaraan tak lain adalah tentang bayi yang sedang dikandung Kinara. Bayi tak berdosa itu sedang dipermasalahkan keberadaannya. Hal itu membuat masing-masing pihak berusaha mempertahankan pendapatnya. Obrolan berjalan alot. Apalagi Kinara, ia tampak linglung. Wajahnya terus murung. "Kinara, setelah ini kamu masih bisa berkarier." Neriti masih terus membujuk gadis itu. Kinara merasa terpojok. Bukannya mengalah, ia justru menangis. Gadis itu teringat masa kecilnya yang tak cukup bahagia. "Apa ada jaminan anak ini akan bahagia?" Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Kinara. Gadis itu baru saja melontarkan pertanyaan yang sudah pasti sulit dijawa