Dewa perlahan mendongak, memutuskan sesapan intensnya sejenak namun tetap membiarkan wajah tampannya berada hanya beberapa milimeter dari d**a Lintang yang naik turun memburu. Napas pria blasteran itu terasa panas menyengat kulit Lintang yang basah. Dengan tatapan mata abu-abu pekat yang sudah menggelap total oleh kabut gairah, Dewa menatap lekat wajah tunangannya yang berantakan, lalu dengan edannya berbisik tanpa dosa, "Manis, Dek... Enak banget." "Mas Dewa! Ih, saru!" pekik Lintang tertahan dengan sisa tenaganya. Wajahnya yang sudah sewarna kepiting rebus langsung dipalingkan ke samping, benar-benar tidak sanggup menatap mata ugal-ugalan Dewa yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup malam ini. Rasa malunya sudah menembus ubun-ubun. Melihat reaksi menggemaskan itu, Dewa justru terk

