Back to Desya’s POV Setelah hampir sebulan, akhirnya hari ini aku bertemu lagi dengan Mas Dhika. Sepuluh detik pelukan sangatlah kurang. Hanya saja, aku malu mengakui itu. Belum lagi, sebetulnya ini sama sekali tidak boleh. Sayangnya, sulit sekali menolak pelukan Mas Dhika di saat sebenarnya aku sangat menginginkannya. “Itu, Mas, rumahnya yang pagar hitam.” Aku menunjuk rumah keduaku, alias markasku, Mas Davka, dan Mas Dipta, saat dulu malas pulang. Itu adalah rumah peninggalan Eyang dan Papa menolak keras untuk menjualnya. Bahkan jika dibeli dengan harga di atas pasaran pun, Papa tetap tidak mau karena historinya tak ternilai. “Yang kamu bilang rumahnya kecil itu sebesar ini, Sya?” Aku meringis. “Kecil, kok, itu. Beneran, deh. Luas di halaman aja.” Begitu mobil berhenti di depan rum