“Kamu yakin besok akan berangkat ke Jakarta, Dhik?” tanya Mbak Alin sembari membawakan satu cangkir kopi hangat yang masih mengepul dan satu piring pisang goreng. Malam ini dia akan menginap di rumah Ibu beserta suami dan anaknya. “Iya.” “Sudah yakin seratus persen?” “Harus berapa kali Mbak bertanya hal yang sama? Mbak meragukan adik sendiri?” Mbak Alin menaruh satu cangkir di depanku, lalu menggeleng. “Bukan gitu, Dhika.” “Lalu apa? Apa yang mau Mbak bahas sama aku malam ini?” aku bertanya terus terang. Sejak datang, Mbak Alin sudah terlihat ingin mengajakku bicara. Ngomong-ngomong, saat ini kami sedang berada di balkon lantai dua. Ayah, Ibu, suami dan anak Mbak Alin, semua sibuk di lantai bawah. “Mungkin ini terdengar sangat klise, tapi kamu tahu betul kan, Dhik, menikah itu bukan