Aurelie mendengar suara Arata di samping kepalanya. Ia tidak sanggup bersuara, hanya bisa mengangguk. Memeluk Arata seperti ini membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan napasnya tercekat. Mereka begitu dekat sehingga ia bisa merasakan debar jantung laki-laki itu. Rasanya hangat dan sangat nyaman, seakan ia sedang melayang di awan. “Aaah ... Musim gugur ini dingin sekali,” desah Arata. Aurelie mengangguk Iagi di bahu Arata. Ia bisa merasakan Arata tersenyum. Untuk beberapa saat mereka berdiri berpelukan seperti itu, di bawah pohon-pohon dengan daun berwarna kecokelatan di taman rumah sakit. Aurelie berdoa dalam hati ia bisa selamanya merasakan perasaan bahagia ini. Namun sikap Arata masih tetap membuatnya bingung. Beberapa hari terakhir Aurelie merasa Arata berubah pendiam dan sep

