Celina duduk di sisi kasur sambil mendekap secangkir café noir* di pangkuannya. Matanya kosong menatap kaca jendela yang berembun. Salju menggumpal di luar kusen, menambah dingin suasana kamar. Ia melirik arloji. Hampir pukul sepuluh. Pertanyaan muncul di kepalanya: apakah ia harus menemui Olivier Scotto, atau berpura-pura melupakannya? Ia bergeser gelisah di sisi ranjang. Pikiran tentang pertemuan itu membuatnya ragu. Ada perasaan tidak nyaman, seolah ia terjebak dalam pilihan yang sulit. Ingatan tentang mimpi semalam kembali muncul. Ia melihat dirinya berdansa di sebuah ruangan besar, seperti aula. Musik terdengar samar, langkahnya mengikuti irama. Namun wajah pria yang bersamanya tidak terlihat jelas. Ruangan itu terlalu menyilaukan. Celina menghela napas. Mimpi itu membuatnya kepiki

