Begitu tiba di Tokyo, Aurelie dan rombongan langsung menuju hotel untuk check-in. Tidak ada waktu untuk beristirahat lama, karena tujuan utama mereka adalah rumah sakit tempat Arata dirawat. Bagi Aurelie, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Jepang. Namun ia sama sekali tidak punya minat untuk melihat-lihat atau menikmati suasana kota. Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, lalu dari hotel ke rumah sakit, Aurelie hanya menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong, seolah tidak peduli dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Hatinya tidak tenang, pikirannya penuh dengan bayangan tentang pertemuan yang akan segera terjadi. Ketika mereka tiba di rumah sakit, Aurelie baru menyadari kedua tangannya terkepal begitu erat. Rasa sakit menjalar dari jemarinya, tetapi ia tidak melep

