Kaizen mengangkat tubuh Sea dengan mudah, mendudukkannya di atas meja marmer dingin yang langsung membuat punggungnya sedikit menggigil. Tapi rasa dingin itu dengan cepat lenyap, tergantikan oleh kehangatan sentuhan dan ciuman Kaizen yang terus membakar. Bibirnya melumat bibir Sea dengan rakus, seolah dunia di luar tidak lagi ada, seolah hanya wanita ini yang menjadi pusat semesta. Dia tidak pernah se-gila ini sebelumnya, tidak pernah merasa begitu terpikat hingga melupakan logika. Sea adalah satu-satunya yang membuatnya terjebak dalam badai yang tak bisa ia hindari, dan Kaizen tidak keberatan tenggelam di dalamnya. Tangannya bergerak tanpa kendali, menyusuri pipi Sea dengan lembut, turun ke lehernya, hingga jemarinya menyapu pinggangnya yang ramping. Setiap sentuhan, setiap kecupan, te