Gerimis kembali hadir malam itu, lembut dan tanpa gemuruh petir atau kilat seperti malam-malam sebelumnya. Suasana begitu sunyi, nyaris magis. Sea menggeliat pelan di bawah selimut, matanya terbuka perlahan. Dia tidak tahu pukul berapa sekarang, tetapi ada satu hal yang pasti—rasa lapar melandanya. Dia hanya makan malam sedikit tadi, dan perutnya kini tak bisa diajak kompromi. Sea melirik ke samping, tetapi tempat tidur di sebelahnya kosong. Kaizen tidak ada. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Kamarnya hening, hanya terdengar hujan tipis mengetuk jendela. "Oh, mungkin dia sedang bekerja," gumam Sea pada dirinya sendiri. Lagi pula, Kaizen memang tidak ke kantor hari ini. Dengan langkah ringan, Sea turun ke lantai bawah. Cahaya redup dari lampu koridor membuat rumah itu terasa lebih te