Meskipun merasakan sesak di d**a, tapi Tisha tidak boleh berlarut terlalu lama dengan perasaannya. Bukankah dia sudah berjanji akan pria itu bagaimana pun caranya. Maka dari itu, setelah berpuas diri menangis, ia mengatur ketenangan hatinya kembali untuk kemudian melanjutkan kerjanya yang sempat terganggu oleh Samuel. Terlalu fokus dengan pekerjaannya, tanpa terasa jam pulang kerja pun tiba. Tisha membereskan semua barangnya, lalu mengeluarkan ponsel yang ia simpan di dalam tas sedari masuk ke dalam ruangannya tadi pagi. Tentu saja ada beberapa panggilan yang tak terjawab. Muli dari Ayah, Kristan, Killa da nada dua nomor asing yang menghubungi dirinya. Tisha tak ambil pusing, ia mengabaikan semua panggilan itu. Hanya menghubungi Kristan dan mengatakan jika dirinya ingin pulang sendiri, k