“Sudah datang kamu?” Sumi langsung melangkah dengan kaki pincang ke depan Kansa. Berdiri di depan sang putri. Berperan sebagai perisai untuk putrinya tersebut. Sumi menatap memohon majikannya. “Jangan, Nyonya. Tolong biarkan Kansa pergi. Saya saja. Kalau Nyonya mau marah, sama saya saja.” Sumi membentangkan dua tangan seolah dengan begitu ia bisa melindungi putrinya. Ranti—mama Nabila berkacak pinggang. Wanita itu menatap tajam pembantunya lalu berdecak. “Belum kapok, kamu, Sum?” Tidak ada lagi panggilan bik, atau mbok yang dulu wanita itu gunakan saat bicara dengan pembantunya. Rasa marah karena Kansa sudah mengambil calon menantunya, membuat wanita itu melupakan sedikit rasa sayang yang dulu pernah ada. Mama Nabila menggeser bola mata ke belakang tubuh Sumi. “Kamu … ikut denganku.” R