bc

Salah Cium Pak Bos

book_age18+
104
IKUTI
1.0K
BACA
friends to lovers
brave
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
bold
city
office/work place
disappearance
office lady
assistant
like
intro-logo
Uraian

Satu ciuman salah tempat. Satu kesepakatan berbahaya.

Bagi Audrey Permata, Oliver Danendra adalah tipe pria yang harus dihindari. Kaya, dominan, dan terlalu berbahaya untuk hatinya yang rapuh.

Namun, setelah insiden malam pesta topeng yang tak sengaja menyatukan bibir mereka, Audrey tak punya pilihan saat Oliver memboyongnya masuk ke lingkaran terdekatnya sebagai Asisten Pribadi—sekaligus pacar pura-pura.

Saat garis batas antara sandiwara profesional dan daya tarik sensual kian terkikis, Audrey dihadapkan pada pertanyaan terbesar.

Apakah Oliver benar-benar melindunginya, atau ia hanya pengganti sementara dalam dendam yang belum usai?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
“Kalau sampai kita ketangkap dan masuk koran besok pagi, gue bakal pastikan Felix bayar biaya pengacara kita, Mon!” Audrey membenarkan letak topeng masquerade hitamnya yang sedikit miring. Ia mendengkus, menatap pantulan dirinya di kaca mobil sedan tua milik Leo. Malam ini penampilannya benar-benar bertolak belakang dari kesehariannya. Gaun malam hitam berpotongan leher rendah ini pinjaman dari salon Leo, terasa sedikit terlalu ketat di bagian pinggang. “Duh, Drey, berisik banget sih dari tadi. Tenang napa?” Monica yang duduk di jok belakang sibuk merapikan bulu mata palsunya. “Mantan gue yang tengil itu harus basah kuyup malam ini. Titik. Nggak ada kata mundur!” “Ya tapi nggak harus menyusup ke ballroom hotel bintang lima gini juga, Mon,” sahut Leo dari balik kemudi. Jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk setir. “Lihat tuh valet-nya. Mobil gue berasa kayak gerobak ketoprak di antara deretan Porsche sama Lamborghini.” “Sut! Diam kalian berdua. Pasang topeng masing-masing, kita jalan sekarang!” perintah Monica tegas. Mereka bertiga melangkah keluar dari mobil. Udara malam yang dingin menyengat kulit pundak Audrey yang terbuka. Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt malam ini disewa penuh untuk pesta ulang tahun salah satu pengusaha muda ternama. Karpet merah membentang dari pintu masuk, dijaga dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam. “Selamat malam. Bisa lihat undangannya?” tanya salah satu penjaga pintu dengan suara datar dan dingin. Audrey menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di sampingnya, Monica tersenyum manis dari balik topeng bulu emasnya. “Aduh, Mas, undangan fisik kita ketinggalan di meja makan. Tapi Pak Felix sudah menunggu di dalam, kok. Kita rombongan dari agensi model,” celoteh Monica tanpa kedipan mata. Penjaga itu menatap Monica dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Audrey dan Leo. Tatapannya meneliti dengan penuh kecurigaan. “Beneran, Mas. Kalau nggak percaya, saya panggilkan Felix sekarang nih. Biar Masnya yang kena semprot,” tambah Leo sambil mengibaskan kipas lipatnya. “Ya sudah, silakan masuk,” sahut penjaga itu akhirnya sambil menggeser tubuhnya sedikit. “Tapi tolong jaga ketertiban di dalam.” Audrey mengembuskan napas lega begitu kaki mereka berhasil melewati pintu kaca tebal. Kelegaan itu hanya bertahan tiga detik. Pemandangan di dalam ballroom langsung membuat kepalanya pusing. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Ratusan orang berpakaian mewah hilir mudik membawa gelas sampanye. Denting porselen dan alunan musik klasik terdengar begitu elegan. “Gila, ini sih bukan pesta biasa. Ini tempat berkumpulnya para sultan,” bisik Audrey pelan. Tangannya meremas lengan baju Leo. “Jangan kelihatan udik gitu dong, Drey. Pegang gelasmu yang benar,” tegur Monica sambil mengambil dua gelas minuman dingin dari nampan pelayan yang melintas. “Sekarang, sebar pandangan kalian. Cari si b******k Felix.” “Gue rasa gue nemu targetnya,” sahut Leo pendek. Dagu lancipnya menunjuk ke sudut ruangan dekat bar minuman. Audrey mengikuti arah pandang Leo. Di sana, di bawah sorotan lampu remang, seorang pria dengan jas motif kotak-kotak sedang tertawa lepas. Tangannya melingkar santai di pinggang seorang wanita bergaun merah menyala yang jelas-jelas bukan Monica. “Kurang ajar,” geram Monica. Matanya membelalak lebar. “Dia bilang sama gue ada dinas luar kota sampai lusa! Ternyata malah asyik gelendotan sama wanita lain!” “Mon, tahan emosi. Jangan bikin keributan di sini,” cegah Audrey cepat. Ia memegang bahu sahabatnya. “Nggak bisa! Gue harus kasih pelajaran!” Tanpa bisa dicegah, Monica melangkah lebar menembus kerumunan tamu. Audrey dan Leo saling pandang sebentar sebelum akhirnya berlari kecil mengejar Monica. “Felix b******k!” teriak Monica nyaring, memotong alunan musik jazz yang sedang mengalun. Pria bernama Felix itu menoleh kaget. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, Monica sudah menyiramkan segelas jus jeruk pekat tepat ke wajah pria itu. Cairan kuning lengket itu membasahi kemeja putih mahal dan jas Felix. “Siapa sih lu?!” umpat Felix sambil mengusap matanya yang perih. “Gue, mantan cewek lu yang lu bohongi!” Monica melepas topeng emasnya dan melemparnya tepat ke d**a Felix. Suasana pesta mendadak hening. Pandangan puluhan pasangan high society langsung tertuju ke arah mereka. Wanita bergaun merah di samping Felix menjerit histeris karena cipratan jus mengenai gaun mewahnya. “Teman-teman, pegang cewek gila ini!” teriak Felix pada tiga orang temannya yang berdiri di dekat bar. “Panggil sekuriti!” “Mon, lari!” teriak Leo heboh. Kepanikan langsung pecah. Tiga pria berjas kemeja ketat mulai melangkah maju dengan wajah garang. Audrey yang panik mencoba mundur, tapi tumit sepatu hak tingginya tersangkut di pinggiran karpet. Ia terhuyung ke belakang. “Audrey, cepat!” seru Monica yang sudah ditarik Leo menuju pintu darurat. “Kalian duluan! Gue nyusul!” balas Audrey setengah berteriak. Saat Audrey berhasil menguasai keseimbangannya, dua teman Felix sudah memotong jalur menuju pintu keluar utama. Mata mereka menatap Audrey dengan gusar. “Temannya si cewek gila tadi, kan? Jangan biarkan dia lolos!” bentak salah satu dari mereka. Audrey membalikkan badan, memutar arah menuju lorong samping yang sepi. Ia melepas sepatu hak tingginya, memegangnya di kedua tangan, lalu berlari sekuat tenaga. Karpet tebal lorong hotel terasa dingin di telapak kakinya. “Hei! Berhenti kamu!” suara teriakan penjaga keamanan bergaung di belakangnya, berpadu dengan derap langkah kaki yang makin mendekat. Audrey terus berlari menelusuri koridor berdinding kayu mahoni yang luas. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya memburu tegang. Ia menoleh ke belakang sekejap dan melihat bayangan dua sekuriti sudah berbelok di ujung lorong. “Aduh, mampus gue. Mampus!” gumamnya panik. Di depannya hanya ada lorong panjang tanpa pintu terbuka. Satu-satunya celah adalah sebuah tirai beludru marun berukuran besar yang menutupi area balkon luar. Tanpa berpikir panjang, Audrey mengarahkan langkahnya ke sana, berniat bersembunyi di balik kain tebal itu. Baru saja jemarinya menyentuh lipatan kain beludru, sebuah lengan kekar mendadak keluar dari balik pilar batu di samping tirai. “Set—” Kata-kata Audrey terputus seketika. Lengan berjas elegan itu ditarik cepat, membawa tubuh Audrey masuk ke dalam celah sempit di balik pilar besar yang gelap. Tubuhnya terdorong rapat ke dinding marmer yang dingin. Sebelum ia sempat berteriak atau melayangkan pukulan dengan sepatu hak tingginya, sebuah telapak tangan hangat yang kokoh langsung menutup mulutnya. Suara derap langkah kaki dua sekuriti melintas tepat di depan pilar tempat mereka bersembunyi. “Mana cewek tadi?” “Kayaknya dia lari ke arah tangga darurat. Cepat kejar!” Suara langkah kaki itu perlahan menjauh dan menghilang di ujung lorong. Audrey mengembuskan napas lega yang tertahan di tenggorokan. Kesadarannya mendadak kembali begitu merasakan kehangatan tubuh pria yang kini menghimpitnya rapat. Pria itu sangat tinggi, aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal merasuk ke indra penciumannya. Pria itu juga mengenakan topeng masquerade ukiran perak yang menyembunyikan separuh wajah atasnya. Hanya rahang tegas dan bibir tipisnya yang terlihat di bawah remang cahaya. Audrey mencoba menggerakkan badannya, hendak mendorong d**a bidang pria itu. Genggaman pria itu di pinggangnya justru makin memperketat jarak. “Lepas,” bisik Audrey lirih begitu telapak tangan pria itu terangkat dari mulutnya. Pria itu tidak menjawab. Mata di balik topeng perak itu menatap lurus ke manik mata Audrey dengan intensitas yang mengintimidasi. Sebelum Audrey sempat memproses apa yang terjadi, pria itu memiringkan kepalanya, mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Audrey. Ciuman itu tidak lembut. Ciuman itu menuntut, tegas, dan menuntut kepatuhan sepenuhnya. Sensasi dingin dari topeng perak yang bergesekan dengan pipinya bertolak belakang dengan kehangatan menuntut yang menyapu bibirnya. Audrey membeku. Lidahnya kelu, dadanya naik turun dengan ritme kacau. Akal sehatnya menyuruhnya menampar pria asing ini, tapi sentuhan di pinggangnya membuat seluruh sendi kakinya terasa lemas. Pria itu menarik kepalanya beberapa sentimeter saja, membiarkan napas hangat mereka beradu di udara yang terbatas. Jemari tangannya yang besar mengusap garis rahang Audrey dengan kelembutan yang kontras dari tindakan sebelumnya. “Tetap diam kalau kamu nggak mau ditegur sekuriti di luar,” bisik pria itu dengan suara berat yang menggetarkan d**a Audrey.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Serpihan Hati Yang Utuh

read
2.6K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.5K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
169.1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
6.6K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook