Malam itu, Auliya tak bisa tidur. Dia menatap Alia yang sudah tertidur pulas, memeluk boneka kelinci lusuh kesayangannya. Tawaran dari Abi Jaffar beberapa waktu lalu, dan keinginan putrinya, terus berputar-putar di pikirannya. "Beasiswa penuh. Sekolah elit. Fasilitas lengkap. Tapi... di Jogja. Dan... ada Ummi Maemunah, Abi Jaffar dan Ali tentunya." Auliya memejamkan mata, berusaha menyingkirkan bayangan masa lalu yang kembali muncul. Tapi, kenangan itu terus menari di kepalanya tanpa bisa dia usir. “Apa aku sanggup menghadapi semuanya lagi?” bisiknya dalam hati. Tangannya meremas selimut. “Tapi… kalau aku nolak, berarti aku egois. Aku nggak boleh jadi ibu yang egois…” Ia menoleh ke Alia yang tidur dengan senyum tipis di wajah mungilnya. Melihat itu, d**a Auliya terasa sesak sekaligus

