11 | Kepepet

1614 Kata
"Rajen kerja di luar? Bukannya dia ada kerjaan di rumah?" "Mm ... lagi pengin cari pengalaman baru yang bisa membaur sama orang-orang katanya, Mi." Maaf, Huma berbohong. Rajen pernah bilang, "Jangan kasih tahu kalau aku kerja di luar karena udah bangkrut. Jangan ceritain soal kasus penipuan aku juga. Pokoknya cukup kita aja yang tahu soal itu. Mami-papiku apalagi, jangan. Ya, Sayang?" "Macem-macem aja, bukannya fokus sama apa yang udah dijalani," seloroh Papi Daaron. "Kan, itu udah bagus, kan? Tinggal dikembangin aja, lho, aplikasinya. Kok, malah cari-cari kerjaan lain?" "Kerja apa, di mana, Sayang?" sela Mami Dikara, menatap Huma. Ya, beliau-beliau ini sudah tiba di kediaman Huma. Benar-benar datang berkunjung. Kata Rajen sebelum berangkat pagi tadi, "Nggak pa-pa kasih tahu aku kerja di bengkel, tapi alasannya karena lagi mendalami minat baru. Atau kamu kasih alasan masuk akal lain, selain fakta." So, Huma katakan persis demikian. "Di bengkel, Mi. Rajen lagi mendalami minat baru." "Bengkel?" Alis Papi Daaron sampai menukik tinggi-tinggi. "Kayak yang bisa aja dia. Kok, tiba-tiba punya minat ke situ?" Iya, kan? Huma juga ragu Rajen bisa berhasil di bidang otomotif ini. "Namanya juga minat baru, Pi." "Habis nonton film berbau bengkel, jangan-jangan? Terus kepincut." Mami Dikara berpendapat. "Rajen ini memang suka hal baru, suka belajar." "Tapi nggak nyangka kalau itu dunia otomotif, Mi." Papi Daaron tampaknya merasa janggal. Huma senyum. Yeah ... soalnya ini karena tuntutan keadaan. Jalannya supaya dapat uang hanya dari bengkel. Belum ada peluang dari bidang lain, lamaran kerja pun kata Rajen masih belum kelihatan hilal panggilan. Sedang cari-cari pekerjaan kantoran, termasuk Huma. "Ada-ada aja. Tapi kondisi keuangan aman, kan? Rajen masih tetep jaga platformnya, kan?" Papi Daaron terlihat khawatir. Huma mengangguk. "Aman, Pi." Sudah gulung tikar. Tapi Rajen tidak mau hal itu diketahui orang tuanya. Huma pun tutup mulut. "Mamut ...." Oh, Bara bangun. Sepulang sekolah memang langsung tidur habis makan. Yang kini diserbu oleh nenek-kakeknya. *** Janardana Rajendra Atmaja. Hazel men-stalk akun media sosial sosok itu. Tampak sudah lama tidak aktif di sosmed, postingannya berakhir di lima tahun lalu. Tapi selain akun ini, tidak ada akun lain yang seperti milik Rajen. Hazel mengklik love di tiap unggahan. Ternyata Rajen suka basket. Hazel lalu men-screenshot beberapa foto Rajen. Oh, rupanya Rajen bersekolah di sini. Sekolahan para kalangan atas. Sudut bibir Hazel sontak naik, dia kulum-kulum senyuman. "Tapi kenapa Rajen nggak bales chat aku, ya? Dia susah didekati kayaknya, ya, Bang?" Bendrong melirik anak gadis pak polisi di wilayahnya. Ini markas tempat kawan-kawan geng motor berkumpul. Salah satunya ada Hazel. "Tadi kamu bilang dia anak pimpinan Atmaja Group, kan? Calon CEO?" Hazel mengerucutkan bibir. "Pasti kriterianya bukan kamu, Zel." "Ish, Bang Bendrong! Nggak boleh gitulah. Bisa aja emang dia tipe yang harus dikejar-kejar lama dulu, baru mau buka hati." "Jiaaah." Bang Bendrong terkekeh. "Coba aja nanti malem dia pasti datang." Sambil Hazel sunggingkan senyuman. "Terus mau apa kalo dia datang?" "Eh, Bang." Hazel mendekat. "Bikinin taruhan, dong." Kening Bendrong mengernyit. "Gini, lho ...." Hazel bisik-bisik. "Nanti malem. Oke?" *** "Lho, kenapa? Ambil aja uangnya, Huma. Tiap transferan dari papi juga kenapa selalu dibalikin? Kan, ini buat kalian," ujar Mami Dikara. Huma senyum menanggapi. "Rezeki nggak boleh ditolak, lho, Huma. Apa ini karena Rajen yang larang nerima pemberian Mami sama papi?" "Nggak, kok, Mi. Huma sama Rajen justru sangat berterima kasih ke Mami dan papi." "Kalau begitu, diambil, ya. Buat jajan Bara." Sekali lagi segepok uang seratus ribu disodorkan ke tangan Huma. "Jajan apa yang sampai butuh sepuluh juta, Mi? Ini kebanyakan." Seperti uang transferan dari mereka per bulannya. Dan Rajen tidak suka itu. Sejak kakek uyut meninggal, mami dan papi Rajen kerap memberi transferan. Awalnya diterima, tetapi lama-lama, kok, makin sering? Kok, rutin? Rajen auto mengembalikan dana tersebut. Benar bahwa Rajen melarang Huma menerima tiap pemberian orang tuanya. Yang ada justru Rajen bertekad untuk memberikan sesuatu ke mami dan papi, tidak berbentuk uang, lebih kepada barang atau makanan. Yeah ... Rajen tersinggung. Dia berasa dikasihani, padahal sebelumnya waktu Rajen diusir, papi dan mami tidak melakukan pembelaan apa-apa. Jadi, Huma mengembalikan uang di tangannya ini ke Mami Dikara. "Ya udah, nih, setengahnya aja," kata mami. Tapi Huma kembalikan lagi. Walau jujur, dia tergiur. Namun, Rajen akan sangat marah nanti. "Huma! Nggak apa-apa. Terima, ya? Mami kasih buat Bara, kok. Bukan buat kamu atau Rajen. Oke, kalian bodoh amat. Nih, ini buat cucu Mami. Tolong jangan halangi rezeki Bara." Kekeh, uang itu Dikara genggamkan di tangan Humaira. Huma sampai gamang. "Udah, Mami pulang dulu. Tuh, papi udah pulang habis ngeborong jajanan di warung. Terima aja, itu kasih sayang papi buat Bara. Gimanapun, kan, anak kalian adalah darah daging kami juga." Huma berdiri. Mami Kara meraih tas Hermes-nya, lalu tersenyum ke arah kedatangan Bara dan Papi Daaron. "Mamut! Bala nggak foya-foya, ini Kakek yang maksa Bala buat jajan." Eh? Mami Dikara terkekeh. Bara berlari kecil ke arah sang mamud, semula tangannya dituntun kakek. "Itu bukan foya-foya, Bara. Justru bagus, Bara udah membantu meningkatkan pendapatan UMKM hari ini." "UMKM itu apa, Kakek?" "Usaha kecil seperti yang punya warung tadi," tanggap Papi Daaron. Mami Kara senyum. "Ya sudah, yuk, Pi? Salam aja buat Rajen, ya, Huma. Kalian main, dong, ke rumah sana." "Tunggu sebentar, Mi. Bawa rendang, ya? Mami sama Papi, kan, nggak sempat makan di sini. Huma bungkusin dulu." "Lho, nggak usah, Sayang!" sela Mami Dikara. Tapi Humaira sudah bergegas ke belakang, dia gerak cepat membungkus masakannya ke dalam rantang. Huma hanya tidak mau Rajen kecewa. Hidangan ini, kan, sangat Rajen usahakan agar dilahap oleh mami dan papinya. "Nanti rating masakan Huma, ya, Mi, Pi." Sembari Huma serahkan rantang hijau itu. Kalau warnanya hijau Hulk sudah pasti pilihan Bara. "Ih, kamu. Bukannya nggak pa-pa, nggak usah. Buat kalian aja." Tutur kata Mami Dikara sudah jauh lebih santai daripada dulu. Dan rantangnya diterima. Huma senyum. "Pokoknya kasih rating, ya, Mi, Pi." "Pasti seratus per sepuluh ini, sih. Masakan Huma nggak pernah gagal," timpal papi. Huma terkekeh. "Ya sudah, kami pulang dulu, Sayang." Huma ber-cupika-cupiki dengan Mami Dikara, lalu cium tangan Papi Daaron. Bara juga mencium tangan mereka dan pipinya kembali dikecup-kecup baik oleh nenek atau kakeknya. Mengantarkan ke teras, Huma dan Bara dadah-dadah. Tiap kali ada kunjungan orang tua Rajen, tetangga Huma pasti melongok kepo. Lalu setelah mobil yang membawa mami dan papi menjauh, Huma disapa tetangga. "Ibu sama bapaknya mampir sebentar banget, Huma." Praktis Huma menoleh. Awal-awal dikira majikan baik hati yang menyambangi rumah mantan pembantu. Huma tidak tersinggung kala itu, tetapi bisa bahaya kalau Rajen sampai tahu ceritanya. "Oh, iya, Bu. Ada keperluan lain. Cuma ngobatin kangen sama cucu." Huma menimpali dengan ramah. Bara sudah masuk duluan. "Mari, Bu!" Dan Huma pamitan. "Oh, iya, silakan." Masuklah Huma, dia tutup pintu. Kalau bicara soal tetangga, Huma sejujurnya sampai detik ini tidak begitu akrab dengan mereka. Bukan Huma yang susah mengakrabkan diri, tetapi merekanya yang seperti punya batasan tersendiri. Lima tahun sudah membuat Huma terbiasa, tidak ambil pusing dengan sikap tetangga. "Jangan langsung dihabiskan, ini jajanan buat seminggu lebih. Sini, Mamud yang simpan." Bara auto loyo. *** "Ada salam dari mami-papi." Rajen meneguk air mineral. Baru pulang. Haus sekali. Bara sudah balik nonton TV. Kalau sore ada tayangan kesukaan, jadi mangkal di situ. "Terus ini ...." Huma letakkan lembaran seratus ribu di meja makan. "Dikasih mami buat Bara. Aku susah nolaknya." Yang langsung Rajen ambil. "Besok Mas balikin ke mami." Tuh, kan. Apa pun maksud pemberiannya, jika itu dari orang tua atau keluarga Atmaja, Rajen tidak pernah mau. Ini soal harga diri. Selalu begitu. Ya, dulu memang Rajen pernah merengek minta transferan orang tua waktu s**u Bara habis, tetapi sekarang berbeda. Dulu juga Rajen disuruh usaha sendiri, kan? "Mas mandi dulu." Huma tidak berkata apa-apa sekadar untuk memberi pendapat agar uang tadi biarlah diterima saja. Manut pada putusan Rajen. Padahal kalau melihat sisi lain, butuh sekali. Ah, lamaran kerja Huma juga tidak ada yang membuahkan hasil. Apa karena Huma tidak ada pengalaman kerja? Usianya juga sudah 25 tahun. Huma pindah ke kamar, menunduk menatap ponsel. Cari-cari lowongan lagi, sampai di titik dia menemukan lowongan kerja dari ... Luxe–Atmaja Group. Haruskah? Tidak. Nanti Rajen marah. Tapi .... Belum tentu diterima juga, kan? Tetap saja nanti Rajen marah. Namun, lima puluh ribu sehari ... cukup apa nanti? "Maaf." Huma membisik. Dia kirimkan surat lamaran kerjanya ke email yang tertera. Atmaja Group. Dengan jantung yang begitu kencang berdegup. Huma menggigit bagian dalam bibir. "Ra?" Astagfirullah! Kaget. Huma terlonjak. Kening Rajen mengernyit. "Iya? Oh, udah selesai mandinya?" "Lihat apa tadi? Sini mana hapenya," sergah Rajen, mendekati istri. Huma bersikap sebiasa mungkin. "Ini, lho ... lagi lihat-lihat foto bayi Bara. Aku keinget awal kita menikah dan alasan kenapa kita harus menikah." Tetap Rajen ambil ponsel istrinya. Huma tak bisa mencegah. Hanya bisa berdoa agar tidak dicek emailnya. Layar jendela sudah dihapus, harusnya aman dari riwayat menu mana yang sudah Huma singgahi. "Bukan keinget Gavandra?" "Kok, jadi dia?" "Dia keren naik mobil." "Terus?" Huma menatap Rajen. Tatapan itu berbalas. "Sama aku cuma bisa naik motor." "Dulu aku selalu jalan kaki atau naik kendaraan umum." Huma kembali merebut ponselnya, lalu dia letakkan di nakas. "Lagi pula hubunganku sama Gav udah nggak mungkin bisa diapa-apain, kamu lupa gimana aku dulu atas omongannya?" "Kok, nggak sebut mas?" Rajen mengalihkan bahasan. "Iya, Mas. Jangan cemburuin Gavandra. Udah lima tahun lewat dan Mas Rajen pemenangnya." "Bisa aja kamu. Ya udah, ayo, buka baju!" "Dih!" Huma menolak. Bukannya apa. "Belajar dari pengalaman, waktu itu Bara hampir mergokin. Next time pas dia tidur aja." "Oke. Malam ini." Rajen senyum. Dia kecup pipi Huma. "Lima ronde." Sambil berlalu, selesai pakai baju. Huma lempar bantal kecil, tepat jatuh di punggung Rajen. "Kayak yang kuat aja kamu!" Namun, sadar tak sadar mereka telah saling memiliki rahasia. Saling membohongi. Itu semua karena uang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN