12 | Hadiah Istimewa

1657 Kata
"Mamut, Bala belum mau bobok!" Ini pukul setengah delapan malam, barusan habis isya berjemaah. "Tapi Bara harus bobok." Rajen yang menimpali. Eh, Bara menangis. Dia sebal disuruh tidur cepat-cepat, padahal belum ingin. Apalagi Bara siangnya sempat tidur, jadi jam segini belum ngantuk. Wah, wah .... Huma dekap anaknya. Diajak rebahan. Karena sedang menangis, Bara manut ikut rebah. Tadi, sih, ogah. "Belum ngantuuuk," katanya, menangis dramatis. Malah sekarang menjerit. "Ya udah, ya udah, nggak bobok." Huma tenangkan tangisan itu. Pasti suara Bara sampai kedengaran ke rumah tetangga. Rajen menatap si kecil. Huma meliriknya. Menyuruh Bara tidur lebih awal karena Rajen ingin asik-asik jos dengan Huma, you know-lah. Urusan orang dewasa. Soalnya Rajen mau pergi jam sepuluhan nanti. Ada perlu katanya. "Bala mau nonton TV, Mamut." Sabar. Namanya juga anak kecil. Bara mana paham maksud tujuan orang tuanya. "Iya, ayo. Yuk, nonton, yuk." Huma asal Bara anteng sajalah. "Mau sambil makan jajanan." Bibir Bara masih melengkung ke bawah. Huma pupuskan jejak basah di pipi bocah lima tahunan itu. Karena Bara kulitnya putih, pipinya jadi memerah. "Jangan permen, ya." Bara mengangguk. "Gendong!" Auto jadi manja. Bara menjulurkan dua tangannya. "Sini sama Pamud. Kasian mamud berat gendong-gendong Bara yang udah besar," sela Rajen. Akhirnya ambil andil, tadi cuma jadi penyimak sambil menghela napas. Huma lalu bergeser. Bara mau-mau saja asal ada yang gendong. Yeah ... beginilah rumah tangga mereka. Rajen yang masih dua puluh tiga tahun, lalu Huma dua puluh lima, dan anak mereka yang umur lima tahunan. Di dalam sebuah bangunan enam petak, kecil-kecil ukuran ruangannya. Huma mencepol rambut, seperti biasa baju malamnya adalah daster selutut. Sementara Rajen, kolor dan kaus. Bara saja yang lengkap berpiama, kali ini gambar mobil. Rajen melirik sang istri yang datang membawa camilan Bara. Teringat dulu, Rajen ogah-ogahan atas sosok Humaira. Tapi sekarang ... kok, bawaannya 'pengin' terus, ya? Huma, kok, cantiknya bikin Rajen nggak tahan, ya? Ingin menempel, ingin bertaut, dan ingin Humaira tahu bahwa Rajen suka. Dulu, sih, boro-boro. Tiap melihat Huma, meski Rajen terpesona, dia ogah mengakui itu. Pasti isi kalimatnya, "Jelek." Lalu saat Huma dandan, Rajen pasti bilang, "Kayak j****y, nggak pantes." Huma hanya sekadar dipoles gincu, Rajen nyeletuk, "Lo pikir cantik bibir merah-merah?" Padahal iya cantik, tetapi Rajen tidak suka karena orang lain juga menikmati kecantikan Humaira. Sayang, omongan Rajen 180 derajat beda dengan maksudnya. Gengsi sekali mau mengakui bahwa Humaira Asyila memang memesona. Sekarang Rajen bahkan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya sekadar dari sorot mata. "Bobok, yuk," bisik Rajen kepada sang anak. "Katanya pengin jadi kayak Hulk?" Bara protes. "Hulk badannya besal kalena olahlaga, Pamut, bukan bobok!" "Kalau anak kecil kayak Bara, bobok itu bagus buat pertumbuhan." Rajen usap-usap kepala Bara biar ngantuk. Bibir Bara manyun. "Sana, Pamut aja yang bobok! Bala masih mau nonton TV." Huma menahan tawa melihat mereka. Rajen pun alih menatapnya. Di bawah, kaki Huma disenggol-senggol Rajen. Betisnya dicolak-colek dengan jemari kaki, sesekali seperti diusap. "Batalin aja urusannya. Besok lagi emang nggak bisa?" seloroh Huma. Yeu. "Nggak bisa. Besok, kan, Pamud kerja, Ma." Barangkali pertandingan kali ini hadiahnya uang lebih dari sepuluh juta, soalnya Bang Bendrong bilang siapa pun yang menang akan dapat hadiah istimewa. Tidak disebut apa atau berapa, tetapi Rajen harap kalaupun bukan uang, ya, mungkin barang berharga. Bisa dijual. *** "Pamut ngilim, ya! Bala mau blonis cokelat yang banyak kacang amon-nya." Kacang almond. Suka asal sebut Bara ini. Almond jadi amon. Well, pada akhirnya lagi-lagi harus diurungkan niat bercinta. Lihat itu, sampai nyaris jam sepuluh malam pun Bara masih melek. Malah tadinya minta ikut, tetapi jelas ditolak. Alhasil, Bara minta dikirim brownies saja. "Jajanan Bara dari kakek masih banyak. Itu aja dulu nanti habisin, baru minta lagi," petuah Huma. Soalnya, ya ... jangankan buat beli brownies, buat besok belanja saja sepertinya harus mulai ngirit. "Berangkat dulu, Ma! Bara!" "Dadah, Pamut Lajen!" Bara melambaikan tangan sambil senyum. "Hati-hati, Pa! Jangan kemaleman banget!" seru Huma. Rajen balas dengan bunyi klakson. Begitu motor sudah keluar pagar, Huma dan Bara pun masuk. Kunci pintu. "Sekarang bobok, ya?" Huma cium-ciumi pipi anaknya. Bara mengangguk. Sudah menguap juga. By the way, urusan yang Rajen maksud mungkin soal uang dari papi-mami yang hendak dia kembalikan. Jujur, Huma kadang menyayangkan sifat Rajen yang itu. Tapi sisi lain, Huma paham. Luka hati Rajen atas pengusiran di lima tahun lalu terukir apik. So, Huma tidak bisa menyuarakan pendapatnya agar pemberian Mami Dikara diterima saja. Sepertinya memang ... sebutuh apa pun, sampai di titik kelaparan sekali pun, jika itu uang suntikan dari keluarga Atmaja—termasuk orang tuanya—Rajen memilih mengembalikan, lalu cari pemasukan dari kran lain. Huma bisa apa, kan? Jangankan soal uang itu, Huma mau bantu dengan bekerja juga tidak diizinkan. Tapi Huma merasa harus punya penghasilan sekarang. Harus. Karena lima puluh ribu sehari sangat tidak cukup. *** Sorak sorai meriah menyambut kedatangan Rajen dengan matic-nya. Dari yang dia lihat, sepertinya malam ini jauh lebih ramai. "Raj, tangkap!" Bang Bendrong melempar kunci. Biasa. Rajen ganti kendaraan kalau mau beraksi. Oke, dapat. Rajen pun menyerahkan kunci motor matic-nya ke teman lain. Bawahan Bang Bendrong. Seperti biasa juga, matic Rajen diamankan. "Hai, Raj!" Oh, Rajen menoleh. Tiba-tiba lengannya digandeng. Nempel dadaa. Hazel melempar senyum, lalu melepas gandengan karena gerak penolakan Rajen. "Udah siap?" Hazel bertanya biar nggak kentara-kentara amat ditolaknya. Rajen tidak begitu memasang banyak ekspresi walau menjawab, "Udah. Apa hadiahnya?" Wah ... Hazel girang dibalas begitu. Berarti sudah terkoneksi karena Rajen me-notice-nya. Fyi, malam ini Hazel pakai rok mini levis dan atasan tanktop hitam, jaketnya dia ikatkan di pinggang—gaya-gayaan. "Aku nggak tahu, tapi katanya hadiah istimewa." Senyum Hazel terus terkembang walau Rajen melengos dan tidak mengacuhkannya lagi. Rajen alih ke Bang Bendrong, salam-salaman ala laki. "Hadiahnya apa, Bang?" "Istimewa. Semua anak tongkrongan sini berminat pol sama itu pastinya." Rajen ber-wow ria. "Mahal, ya?" "Lebih ke berharga." Wah .... Apa kira-kira? Motor balap dari yang kalah? I-phone? Jam tangan bekas merek Rolex? Eh, atau apa? Tadi katanya berharga. Sudah pasti mahal, tetapi mungkin bekas pakai. Tak apalah. Yang penting ada harganya saat dijual. "Fajriii!" Teriakan meriah lagi. Kali ini bukan menyebut nama Rajen. Bang Bendrong tersenyum. Dia sekadar tim sukses. "Siapa Fajri?" Rajen baru dengar namanya di tongkrongan ini. "Saingan berat lo." Bang Bendrong menepuk bahu Rajen. "Yok, siap-siap." Hazel pun ambil posisi sebagai pemegang saputangan. "Bersiap!" Lalu tatapannya di Rajen, Hazel merasakan pipinya memanas hanya dengan tak sengaja berteguran pandang dengan lelaki itu. Pewaris Atmaja Group. *** Bara sudah tidur, Huma meraih ponsel. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Dia ketik pesan untuk yang tadi pamit keluar di pukul sepuluh tadi. Humaira: [Udah jam segini. Masih di mana?] Centang dua abu. Tiap semenit sekali Huma cek, tetapi rupanya masih begitu. Humaira: [Pulang aja, udah malem banget ini.] Apa masih mengobrol dengan Papi Daaron, ya? Pikir Huma, Rajen datangi kediaman orang tuanya buat mengembalikan dana. Oh, atau sedang di perjalanan pulang? Tak kunjung ceklis dua biru, tandanya masih belum dibaca. Huma menguap. Sekarang dia ngantuk. So, diletakkannya ponsel. Huma pejamkan mata. Di lain tempat, sorak sorai yang meriah atas kemenangan Rajen menjadi ajang paling heboh dari dua kali balapan sebelumnya. Rajen seperti dilahirkan untuk selalu jadi pemenang. Rajen dikerubungi. Satu tangannya dicekal Bang Bendrong, lalu diangkat tinggi seperti meninju udara layaknya seorang pemenang yang membanggakan para pendukungnya. Rajen tersenyum. Sementara, orang-orang yang tadi balap dengannya menatap ... entah. Tidak terdefinisi, apalagi si Fajri. Yang pasti sorot mata mereka tertuju di Rajen. Sontak Rajen senyum dengan bangga juga, tak sabar mendapatkan hadiah yang katanya sangar istimew—fuckk! "Selamat, ya," ucap seseorang, setelah menjatuhkan satu kecupan di pipi pemenang. Rajen sontak menoleh, menurunkan tangan dan melepasnya dari cekalan Bang Bendrong, menatap tajam wanita yang baru saja menempelkan bibir di pipinya. Hazel senyum. "Ahay, mantap, Raj! Selamat atas hadiah spesial dapet ciuman dari queen kita!" seru pembawa acara malam itu, memakai pengeras suara. "Huuu!" Sorakan penonton sambil tepuk tangan meriah. Rajen masih dilanda syok. "Dan lo jadi orang pertama yang bisa kencan sama Hazel, cieee!" Bang Bendrong menyenggol tubuh Rajen. "Gokil! Hadiahnya dicium Hazel dan kencan sama dia, Jri. Lo kalah ... padahal lo—" "Bisa diem, gak?" tukas Fajri kepada sosok pembalap lain di sebelahnya. Rajen masih mencerna situasi, lalu beralih menatap Bang Bendrong. Mengembalikan kunci motor sambil bilang, "Ini hadiahnya?" Yang konon istimewa. "Yo'i! Cieee ...." Hell. "Gak minat. Next time kalo hadiahnya kayak gini, kasih tahu di awal." Ini bukan cuma waktu dan energi yang terbuang, tetapi banyak sekali kerugian yang Rajen dapatkan sebagai pemenang. Hazel tersentak mundur selangkah waktu Rajen melenggang menubruk bahunya. Keras. Sampai Hazel memegang bekas tubrukan dan meringis. "Raj!" Semua mata tertuju di Rajen, lalu mulai banyak gunjingan. Hazel pun menatap penuh kode ke arah Bang Bendrong, lelaki itu lantas mengejar pembalap baru yang sudah jadi kebanggaannya. "Rajen, oi!" Bahu Rajen ditarik, sontak berbalik. "Sorry karena lo anak baru, jadi pasti kaget dengan cara main kami yang nggak selalu mempertaruhkan uang. Aturan mainnya emang kalo hadiah istimewa selalu dirahasiakan, tapi ukuran di-kiss dan bisa dinner sama Hazel itu bener-bener jadi hadiah paling diminati di kalangan ini." Rajen hendak bicara, tetapi Bang Bendrong mendahului. Dia belum selesai bertutur. "Dan biasanya kalau hadiah istimewa ditolak, itu ada dendanya. Harus bayar lima puluh juta buat next hadiah-hadiah balapan, cash, besok paling lambat karena besok itu jadwal dinner-nya." Rajen tidak percaya ini. Bahunya ditepuk Bang Bendrong lagi. Nilai lima puluh juta sudah cukup besar dan realistis untuk dendanya, kan? Bendrong sudah mengukur kemampuan Rajen yang merupakan anak pimpinan Atmaja Group. Walau mudah bagi Rajen, tetapi keluar uang segitu buat denda hadiah ini pasti merasa sangat disayangkan, kan? Pasti akan berpikir lebih baik terima, toh cuma dinner, apalagi Rajen single. "Gila, ya," desis Rajen. Kembali berbalik untuk pergi. "Kami tahu alamat rumah lo, jadi jangan berpikir buat kabur!" seru Bendrong, berteriak. Langkah Rajen sempat melambat. Ujungnya Rajen berbalik dan melangkah cepat ke arah Bang Bendrong hingga saling hadap lagi. "Oke." Vokal Rajen berat. "Diterima hadiahnya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN