13 | Najis Mughallazah

2020 Kata
"Ngapain, Mas?" Tengah malam, sepulang dari arena, Rajen menggosok-gosok pipi dengan pasir yang dia ambil dari pekarangan. Kan, Huma heran. Dia berdiri di ambang pintu kamar mandi, menatap Rajen tidak mengerti. "Kena najis mugoladoh." Maksudnya, najis mughallazah—najis besar. Sampai harus Rajen gosok pipinya dengan pasir. Ini menjijikkan. Huma mendekat. Tadinya masih ngantuk, berniat untuk lanjut tidur, tetapi suara kasak-kusuk Rajen membuatnya penasaran. "Dijilat guguk?" "Lebih najis dari itu." Rajen kesal, Rajen marah, terkhusus pada dirinya sendiri yang telat menghindar. Refleksnya sangat buruk, parahnya tak sempat Rajen tempeleng cewek sialan itu. Di sini ... Huma menatap lekat wajah sang suami, mencermati. Yang dia tahan pergelangan tangan Rajen. "Itu sampe merah pipinya, nanti luka." Bodoh amat. Rajen merasa harus membersihkan jejak kecup sialan dari wanita lain di pipinya. Bahkan rasanya ingin ganti pipi. Ingin mengulang waktu. Ingin— "Mas, stop." Tidak. Mata Rajen tajam sekali tatapannya, sambil terus dia pupus-pupus bekas sosor wanita bernama Hazel itu. Berengsekk! Harusnya tadi Rajen tempeleng tanpa pandang bulu, mau itu pria atau wanita, mau itu anak polisi atau bukan, dengan apa pun risikonya. Oh, dadaa Rajen bergemuruh kesal. "Rajen!" Huma menyentak kegiatan suaminya. Pasir di tangan Rajen sontak berjatuhan. Kini saling berhadapan. "Apa-apaan, sih, kamu?" Huma tidak percaya dengan praduganya bahwa najis yang Rajen maksud adalah liur hewan serupa anjingg. Rajen juga bilang lebih najis dari itu. Apa? Kenapa sampai seperti ini? Dengan tampang murka yang ditahan, yang ditekan. Huma bukan cuma tinggal sehari-dua hari dengan Rajendra, jadi dia bisa berani bilang sudah cukup mengenali lelaki ini tentang bagaimana ekspresinya. Ada yang sedang Rajen sembunyikan. Di kamar mandi yang sempit itu. Tengah malam ini. "Jujur sama aku, ada apa?" Tutur kata Huma mulai melembut. Sorot matanya memindai, mencari jawaban tersirat dari ekspresi suaminya. "Hm? Ada apa?" Dadaa Rajen agaknya kembang-kempis cukup tajam, bola matanya bergulir gamang, yang lalu dia meluruh bertumpu lutut di lantai kamar mandi. Hei. Apa ini? Huma sontak menarik lengan Rajen agar berhenti berlutut. "Terjadi sesuatu?" Yang entah kenapa suara Huma tercekat sekarang, pikirannya memburuk, detak di dadaa pun tidak menyenangkan. Apalagi saat Rajen bisikkan, "Maaf." Oh ... hati Huma makin giras berdebar. Makin kencang detak jantungnya. Makin mengerikan juga isi kepalanya. Jangan bilang .... Tidak, tidak! "Aku minta maaf, Ra." Sudah berdiri lagi sekarang, bersitatap. Ada sorot penyesalan yang sangat pekat di mata Rajen, juga raut yang penuh rasa bersalah. Belum tahu apa, tetapi hati Huma sudah langsung mencelus. Tampaknya akan ada kabar buruk. Huma menggigit bibir bagian dalam. Pertama-tama dia bawa Rajen keluar dari kamar mandi dulu, masuk ke kamar belakang, menutup pintunya perlahan. Hening di tengah malam. Huma masih berposisi membelakangi Rajen dengan tangan menggenggam hendel pintu, entah kenapa hawanya langsung mencekam. Sampai Huma siap tak siap untuk berbalik dan lanjutkan pembahasan. Apa ini tentang kesalahan? Apa kesalahannya itu soal ... perempuan? Jangan bilang terjadi tragedi macam dulu Huma lagi di atas ranjang yang membuat Bara akhirnya lahir ke dunia. Antara Rajen dan perempuan entah siapa itu. Tolong, jangan .... Huma sudah di titik mencintai Rajendra, sudah ada di titik bahagia dengan hubungan ini, bila sampai tentang orang ketiga wanita di antara dirinya dan Rajen ... entah. Huma tak tahu akan seremuk apa relungnya, sehancur apa harapannya, dan sepatah apa hatinya, hingga begitu takut untuk berbalik menghadap Rajendra. Tapi, Huma harus meneruskan perbincangan di kamar mandi tadi. Sepahit apa pun yang akan dia dengar. So, Humaira berbalik. Masih bisa dia ulaskan senyuman walau itu jenis senyum hanya agar hatinya lebih siap mendengarkan. Sekilas tatapan Huma jatuh di dengkul Rajen yang basah gara-gara tadi berlutut di kamar mandi. Kenapa sampai harus berlutut bila bukan hal yang akan melukainya? "Jadi ... ada apa?" Rajen tercekat, padahal Huma masih dengan segala kelembutannya. "Maaf." "Iya, maaf kenapa?" Huma tak sabar ingin lekas tahu intinya. Dia pun duduk di tepi ranjang, Rajen menyusul. Huma menyembunyikan ketakutan atas apa yang akan Rajen sampaikan. Dan tangan Huma diraih papa Bara, digenggam kuat. "Maaf, ya?" Raut Rajen memelas. "Ya, kenapa kamunya?" Huma jadi gemas. Rajen malah menunduk, tampak sangat frustrasi. "Intinya kamu udah ngelakuin kesalahan?" Huma mulai dengan tanya tebakan. Rajen menggumamkan kata maaf lagi. "Apa ini soal ...." Huma menelan ludah. "Perempuan?" Vokalnya sangat lirih dan hati-hati. Rajen tidak langsung menjawab. Detik waktu terus bergulir serupa detak jantung yang tak ada hentinya selain karena kematian. Lagi-lagi Rajen bilang, "Maaf ... aku salah." Uh ... perih. Hati Huma mencelus. Bukan lagi praduga Rajen dan wanita lain bermain api yang hadir di kepalanya, tetapi bayangan mereka sedang bercinta. Persis seperti dulu Huma pertama kali Rajen renggut kegadisannya. Dadaa Huma kembang-kempis tajam. Desah napasnya mulai berat dan tak keruan. Sekarang Huma curiga ke lain hal, tentang kegiatan Rajen yang terkesan jadi kebiasaan walau baru dua kali; pergi keluar saat hendak pukul sepuluh malam. Apa sebenarnya ... tentang itu pun ada kaitannya dengan permintaan maaf Rajen sekarang? Belum apa-apa air mata Huma sudah menggenang, yang perlahan Huma tarik tangannya dari genggaman Rajendra. Tapi segera Rajen cekal lagi. "Salah aku karena nggak punya refleks cepet buat menghindar, jadi pipi yang aku gosok pake pasir tadi kena ciuman cewek sinting sialan. Bodohnya aku nggak langsung bales dengan tempelengan dan ...." Rajen mengerang. Rasa berdosanya timbul menggelayut sejak pipi ini dinodai. Huma masih geming. Syok. "Maaf. Ada banyak hal yang udah aku tutupin dari kamu. Maafin aku ...." Dan—apa lagi maksudnya? Huma masih bingung harus bereaksi bagaimana, tetapi yang pasti ... "Kamu ciuman—" "NGGAK!" Rajen langsung menukas lugas. "Nggak ciuman. Aku sama sekali nggak pernah mau kalo bukan sama kamu." Huma menyungging senyum sebelah bibir seolah tak lagi semangat atau senang atas ucapan Rajen itu. "Tapi pipi kamu udah kena cium cewek lain tadi?" Rajen rasanya ingin langsung sungkem. "Aku minta maaf. Bodohnya aku. Refleks aku nggak bagus. Harusnya aku gesit menghindar setiba-tiba apa pun serangannya. Aku bakal ngelatih refleks ini biar nggak kecolongan lagi. Aku—" "Yang mana yang dicium? Kanan?" sela Huma. Yang tadi Rajen gosok-gosok dengan pasir. Suara Rajen melemah. Mengiakan dengan sangat tidak b*******h, penuh rasa bersalah. Huma menekan geraham. Walau katanya bukan ciuman, tetapi dicium dan itu karena kenakalan si cewek, sedangkan Rajen posisi tidak siap dan refleksnya buruk, tetap saja ... hati Huma sakit. Dadanya sesak. Cemburu sudah pasti. Marahlah jelas. Apalagi statusnya kini suami-istri. Tapi tunggu dulu, tadi ada hal lain yang Rajen katakan. "Kamu nutupin banyak hal dari aku ... apa aja?" Rajen meremas jemari Humaira yang masih erat-erat dia genggam tangan cantik itu. Tengah malam berganti jadi dini hari saat ini. Kantuk di antara mereka sama-sama tidak mendatangi. Ada emosi lain yang menyabotase rasa kantuk Huma dan Rajen. Yang rasanya biarpun obrolan ini akan memakan waktu sampai matahari terbit, Huma akan menjabani. Rajen menarik napas dalam. "Aku bohong." Huma mencelus lagi. Sudah pasti tentang kebohongan, namanya juga hal-hal yang ditutupi. Tapi tak disangka bila memang benar ada kebohongan di sini, selama ini. Namun, kiranya lagi ... tentang apa? Apa masih soal perempuan? Apa masih ada kaitan dengan yang tadi terkait kecupan di pipi? Rajen bilang 'banyak'. Kira-kira bagian mana saja dari yang pernah dilewati bersama ini yang merupakan kebohongan? Rajen bingung harus memulai dari mana, tetapi penjelasan itu menjadi tanggung jawabnya. "Biar aku sebutin dulu apa-apa yang aku sembunyiin dari kamu, tapi tolong kamu dengerin dulu ceritanya sampai tuntas. Yang pasti ... aku tahu ini salah karena nggak izin sama kamu." "Jangan bertele-tele," tukas Huma, suaranya sudah limit energi. Dia patah hati. Rajen genggam lebih erat lagi jemari sang istri walau berkali-kali Huma seperti ingin melepas. "Aku selama ini balapan." Huma speechless, baru di pernyataan pertama. "Malam-malam yang kubilang ada orderan, ojek online, dan tadi jam sepuluh sampai akhirnya aku pulang ... aku habis balapan." Makin tidak keruan yang Huma rasakan, dan dia makin kehilangan kata-kata. "Kamu tahu kondisi kita, kan, Ra? Yang semuanya gara-gara aku, kita kehilangan dan habis banyak hal. Uang dan barang berharga. Aku ngebayangin hari-hari kita ke depannya bakal kayak gimana, sesuram apa." Rajen menelan saliva. Ini salah, tetapi telah dia lakoni. "Aku ketemu temen SMA, terus aku diajak ke bengkel tempat dia kerja. Soal bengkel Pak Idris ini beneran, nggak bohong. Cuma ... soal kalung." Ucapan Rajen memelan dan menyungging senyum miris di akhir. "Sebenernya aku nggak langsung dapet upah di bengkel. Aku di sana sekali pun keterima kerja, tapi aku perlu belajar dulu. Aku dibolehin sambil belajar perbengkelan, dan sebelum aku bisa, upahku dihitung lima puluh ribu aja sehari—hasil bantu-bantu jualin bensin dan isi angin." Ah, sial. Rajen tidak mau Huma tahu kemalangan ini, Rajen ingin dirinya tampak selalu bisa diandalkan, tampak selalu punya cara—tanpa diketahui bagaimana prosesnya kebutuhan di rumah terpenuhi. "Terus aku ketemu temen baru di bengkel Pak Idris, aku iseng nanya ... ada nggak, sih, cara menghasilkan uang dalam jumlah besar dan cepat." Rajen menatap istrinya. Ekspresi Huma tak bisa Rajen deskripsikan, sulit dia terjemahkan. "Ada, katanya. Jam delapan malam di Senayan. Balapan." Itu awal mula, Rajen menyungging senyum. "Terus dapet, nggak disangka aku sekali gabung langsung menang." Huma masih bisu, tetapi tampak ada emosi yang dia tekan dari raut wajah itu. "Yang kedua, aku juga menang." Rajen menunduk. "Lumayan, dapet sepuluh juta." Vokal Rajen super pelan. "Uangnya ada, kok. Masih aku simpan. Nggak aku pake buat aneh-aneh. Aku cuma pake untuk keperluan kita, yang salah satunya kubilang uang itu dapet pinjam dari Nayaka. Maaf ... soalnya aku nggak mau kamu tahu soal dunia baru yang jadi caraku dapetin uang itu. Kamu pasti khawatir, kamu pasti nggak setuju, sedangkan kondisi kita—" "Ini kalung ...." Huma menyela. Dia sentuh kalung di leher, menarik lepas cekalan jemari Rajen di tangannya. "Uang dari balapan?" Rajen menelan ludah. "Hasil kamu bohongin aku?" "Tapi aku nggak bermaksud, Ra. Aku cuma pengin ...." Henti di sana, sebab kalungnya sudah Huma buka dan dia kembalikan ke tangan Rajen. "Ra—" "Yang cium kamu juga, itu salah satu dari kelompok balap?" Dan setahu Huma dari tayangan drama, biasanya kalau perempuan di geng balap selalu seksi-seksi. "Tapi—" "Jawabannya cuma iya dan bukan." "Iya," seloroh Rajen. "Tapi sumpah demi Tuhan, aku nggak pernah menyukai aksi nyosornya itu. Dan ini bener-bener aku kelolosan. Aku—" "Cukup, Raj." Huma menyela pelan, tetapi sukses membuat kalimat Rajen terpotong. Membicarakan soal kecup wanita lain itu atas apa pun kondisinya, Huma rasa cukup. "Dan apa lagi kebohongan kamu? Sebutkan semuanya, tuntaskan." Rajen mengerang lirih. Bodoh. Bodoh sekali. Dirinya bodoh. "Tadi, ini belum jadi hal yang bisa disebut kebohongan, tapi ini juga bukan hal menyenangkan untuk kamu denger." Rajen mendesahkan kegelisahannya. Menatap Humaira yang sudah tampak sangat kacau rautnya. "Pertama, tujuanku mau balapan adalah supaya dapet uang. Aku merasa ada hasilnya di sini. Dan aku udah buktiin ... memang dapet. Cuma yang tadi, iming-imingnya bukan uang, tapi 'hadiah istimewa'." Huma masih memilih bungkam, menunggu Rajen selesai. "Aku termasuk anggota baru di sana. Aku nggak tahu cara main mereka. Pikir aku ... oh, mungkin hadiah istimewa ini motor balap dari yang kalah paling akhir, mungkin jam tangan Rolex walau bekas, atau mungkin barang berharga lainnya yang bisa diuangkan." Karena uang. Rajen menarik napas dalam. "Aku berambisi buat menang." Ada senyum kecut di Rajen. "Dan aku menang." Huma yang justru menelan ludah kelat. Sepertinya hadiah istimewa itu .... "Tapi ternyata hadiahnya dapet kiss dari salah satu cewek yang mereka sebut queen di perkumpulan, plus dapet kesempatan kencan—dinner—sama cewek itu. Demi Tuhan, aku nggak tertarik sama sekali—" "Tapi kamu terima hadiahnya?" Huma menyela lagi. "Ada denda lima puluh juta kalau aku nolak dan mereka tahu rumah aku, jadi—" "Kamu terima." Huma menekan geraham, menahan senyum kecut. "Iya, tapi aku punya rencana." Kembali Rajen menggenggam tangan Huma. "Aku terima buat sekalian nunjukin eksistensi kamu dan Bara, terus ...." Huma sudah berdiri, sudah dia tarik tangannya. "Ra ...." Huma tepis juluran tangan Rajen sambil berkata, "Kamu saat ngambil keputusan aja nggak libatin aku, nggak pikirin Bara. Tapi di kondisi ini kamu minta aku dan Bara buat terlibat?" Mulai naik nada suara Huma, tetapi masih agak dia tahan. Ini dini hari, waktu terus berjalan, Bara sedang lelap-lelapnya. Oh, tatapan Huma penuh kekecewaan. Tanpa bicara apa-apa lagi, dia melenggang cepat meninggalkan kamar belakang, yang Rajen susul. "Humaira ...." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN