Rajen mengendarai matic-nya dengan kecepatan sedang, di belakang Huma duduk sambil berpegangan ke dua sisi kaus yang Rajen kenakan. Hanya ada suara kendaraan dan angin jalanan, di antara mereka tidak ada yang bicara. Namun, lirikan mata Rajen sering jatuh di spion. Telah Rajen arahkan agar bisa melihat raut Huma yang duduk di boncengan. Rajen merasa bersalah tentang semalam. Tentang banyak hal. Ingin bicara, tetapi Huma terlihat butuh waktu untuk diam. Tatapan Huma ke jalanan di sisi kiri. Ini arah pulang. Karena tak tahan hanya diam, akhirnya Rajen bicara dengan agak berteriak. "Bara di sana nggak perlu dampingan orang tua, Ra?" Pun, kepala Rajen agak menoleh. Huma merasa di-notice. Praktis menatap ke depan. Uh ... sedang tidak ingin bersuara, tetapi pertanyaan Rajen penting unt

