Rajen pulang. Tak bisa dia hindari, Rajen harus pulang walau kondisi wajah sedang mengenaskan begini. Kira-kira bagaimana reaksi Huma, ya? Bara juga bagaimana, apa akan beringsut takut karena saat Rajen melihat spion, ternyata betulan babak belur. Tapi tak mungkin Rajen tidak pulang, tak mungkin dia mengungsi ke tempat lain dulu sampai luka-luka di wajah menghilang. Kan, sudah janji mau berubah, tidak banyak berbohong atau mengarang cerita lagi walau menurutnya untuk kebaikan. Kebaikan siapa? Diri sendiri? Sudahlah. Rajen pun membelokkan motornya memasuki gerbang rumah. Pagar rendah sepinggang. Ini pagar cuma supaya Bara tidak sering lari-lari keluar. Kalau maling masih bisa lompat. Tapi maling juga tak akan minat dengan rumah Rajen. Lihat saja itu ... seperti rumah yang butuh simpat

