66. Menguntit

1047 Kata
Edzard membawa Dante ikut serta ke salah satu Mall. Keduanya terus mengitari Mall selama dua puluh menit, tentu saja mencari keberadaan Adreanne dan Lily. Tidak bisa di pungkiri bahwa kaki Edzard mulai pegal-pegal. Ia berharap Adreanne cepat tertangkap oleh netranya jadi ia tidak perlu bersusah payah mencari dan berjalan lebih lama lagi. "Pangeran itu mereka," bisik Dante sembari menunjuk ke arah Adreanne, Damien dan Lily yang sedang berbincang di salah satu restoran. "Ayo kita pura-pura santai menuju restoran itu dan ikut makan," balas Edzard tanpa pikir panjang. Lagian perutnya sudah berbunyi juga, cacing-cacinngnya meminta segera diisi. Keduanya berjalan seolah-olah sedang tidak mengikuti seseorang. Edzard langsung memilih tempat duduk yang berada sedikit jauh dari jangkauan meja Adreanne. Ketiga manusia yang asik berbincang itu tak menyadari keberadaannya, dan itu sungguh bagus. "Kenapa Damien juga ikut, ya?" gumam Edzard heran sendiri. Padahal di sekolah tadi, ia yakin Lily hanya mengajak Adreanne. Tidak yang lainnya. "Anda tidak pesan?" tanya Dante membuyarkan lamunan Edzard. "Samakan saja denganmu," balas Edzard cuek. Dante mengangguk patuh dan menyebutkan pesanannya pada sang pelayan. Lelaki itu mengalihkan tatapannya dari Adreanne dan pura-pura memainkan ponselnya agar tidak terlalu kentara. "Kenapa anda tidak meminta ikut serta saja tadi pas di sekolah?" tanya Dante heran, ia sungguh dibuat bingung oleh Pangeran Negerinya ini. Kenapa harus memata-matai coba? "Lily melarang Adreanne mengajakku, sudah jangan banyak bicara," tukas Edzard. Baru saja lima detik Edzard menatap Adreanne dengan intens, ternyata gadis itu juga menatap ke arahnya seolah sadar ada yang menatapnya sejak tadi. Buru-buru Edzard membuang pandangannya ke arah lain. "Sial, ketahuan," umpat Edzard pelan. "Hah?" Dante merespon dengan cengo, ia menoleh ke arah meja Adreanne dan Lily. Benar saja, Adreanne menatap ke arah mereka. Tidak hanya Adreanne, Damien pun sama. Hanya saja Damien tampak tidak terlalu mengenali dirinya. Dante pura-pura melambaikan tangan dengan santai dan menundukkan kepalanya dua kali. Sok menyapa. "Jangan bertingkah seperti itu," peringat Edzard dengan mata melotot. "Saya melakukan hal ini agar tidak terlalu terlihat kalau kita sedang menguntit, Pangeran," balas Dante teramat santai. Tringg! Edzard mendapatkan satu notifikasi baru. Ternyata pengirimnya adalah Adreanne. Adreanne. Kamu makan di sini juga ternyata, kenapa nggak ke meja ku dan Lily saja? Dengan gerakan cepat, Edzard mengetikkan balasan untuk gadis itu. Edzard. Nanti ganggu, lagian baru lihat kamu kok. "Pangeran, gerak-gerik mereka mencurigakan," bisik Dante menatap ke lain objek. Dua sosok yang tak jauh dari meja Adreanne, Lily dan Damien. "Itu mereka." Tentu saja Edzard dapat mengetahui dengan jelas siapa dua sosok itu. "Mereka dari Myrania, dan sedang mengintai Adreanne juga. Sial, harusnya aku sudah mengira ini akan terjadi hari ini," gumam Edzard dengan suara kesal dan sangat teramat pelan. Kedua mata Dante melotot. "Mereka memiliki rencana yang jahat, Pange-" Edzard melototkan matanya, tatapannya tampak sangat memperingati. "Panggil aku Edzard, dan kecilkan suaramu. Mereka bisa saja mendengar apa yang kau katakan," jelasnya. Dante mengangguk kecil. "Mereka memiliki rencana jahat?" "Kemungkinan terburuk mereka akan menculik Adreanne secara paksa dan membawanya ke Myrania yang sekarang entah berada di mana." Edzard tidak memilih untuk mengatakannya secara langsung, lelaki itu mengetikkan balasannya di ponsel dan dibaca langsung oleh Dante. "Parah sekali. Kenapa mereka melakukan hal itu? Gadis itu tidak tahu apapun tentang sisi dunia lain ini," dengus Dante tidak percaya. "Mereka melihat ke arah kita," kata Edzard memberitahu. Sontak saja keduanya membuang pandangan dan pura-pura sibuk. Dante berpura-pura memainkan mereka sendok dan garpu, sementara Edzard memainkan ponselnya dan berlagak sedang menerima panggilan. Ketika kedua sosok dari Myrania tak memandang mereka lagi, barulah keduanya bernapas lega. Bertepatan pula dengan pelayan mengantarkan pesanan mereka. "Jangan menatap mereka lagi, mereka mencurigai kita. Fokus makan saja." Edzard mengetikkan kalimat itu di ponselnya dan segera dibaca oleh Dante. Dante segera mengangguk patuh. Mereka fokus ke makanan masing-masing, mencoba untuk tidak lirik sana sini. Setelah makan selesaj, ternyata Adreanne dan Damien menghampiri meja mereka. "Ngapain lo di sini Ed?" tanya Damien tak masuk akal. "Makan lah, apalagi?" balas Edzard santai. "Eh iya bener juga sih," kekeh Damien yang menyadari pertanyaannya tidak berbobot. "Habis ini kami mau nonton, mau ikutan?" tawar Adreanne. "Boleh?" Edzard terlihat sedikit ragu-ragu hendak menerima tawarannya. "Boleh lah. Si Lily juga udah nggak keberatan," jawab gadis itu "Ya udah oke." Karena Edzard dan Dante telah selesai makan, mereka langsung membayar makanan masing-masing dan berjalan bersamaan menuju studio. Bisa Edzard rasakan jika dua sosok dari Myrania itu mengikuti langkah mereka dan mengambil jarak yang cukup jauh agar tidak terlalu ketahuan. "Nonton film apa?" Edzard menatap Adreanne dan Damien bergantian. "Horor?" usul Damien. Adreanne mendelik tajam ke arah Abangnya. "Aku nggak suka film horor," ujarnya penuh penekanan. "Ah nggak asik," gerutu Damien. "Film action aja gimana? Itu kayaknya bagus," timpal Lily. Menunjuk sebuah poster film yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri. "Okay, setuju." "Gue dan Dante ikut aja," putus Edzard. "Ya udah itu aja." Damien memesan tiket untuk mereka sementara Adreanne dan Lily berjalan ke tempat penjual camilan. Adreanne memilih dua pop corn yang berukuran L dan lima botol air mineral. Sementara Lily memilih empat bungkus chiki-chiki yang lain. Tanpa mereka sadari, Lionel dan Rion mengikuti. Dua sosok itu ikut-ikutan memesan tiket nonton dan membeli makanan. Ini adalah kali pertama mereka menonton bioskop, dari gerak-gerik Rion ketika memesan tiket, untunglah tidak terlalu mencurigakan. "Saya sudah dapatkan tiketnya, Tuan," lapor Rion memegang dua tiket masuk. Lionel menganggukkan kepalanya. "Tempat duduknya tidak jauh dari mereka, kan?" Rion mengangguk, "Kita berada dua kursi di belakang mereka." "Kerja bagus, Rion," puji Lionel puas. "Mari kita lihat, film seperti apa yang mereka pilih," lanjut Lionel. Sepuluh menit kemudian, pintu khusus masuk telah dibuka. Untuk meminimalisir kecurigaan, Lionel dan Rion memilih untuk masuk akhir-akhir. Mereka berpikir, tidak ada yang mencurigai gerak-gerik mereka. Padahal, sedari tadi Edzard menyadarinya dan menahan dirinya sendiri untuk tidak menghampiri keduanya. Edzard memilih untuk mengamati terlebih dahulu. Lagi pula, belum ada langkah berbahaya yang diambil Lionel dan Rion. Untuk saat ini masih aman-aman saja, dan seperti janjinya pada Adam. Edzard akan melindungi Adreanne walaupun di sini masih ada Damien yang notabenenya adalah sang Abang dari gadis itu. Tetap saja, kekuatan Damien tidak ada dan pasti akan kalah jika nantinya harus melawan kedua sosok itu. Jadi Damien pun tidak terlalu bisa melindungi adiknya sekarang ini. Dua sosok itu bukan lawan ataupun tandingannya. *** TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN