67. Melenyapkan

1210 Kata
Setelah menonton film, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Edzard masih merasakan keberadaan dua sosok dari Myrania itu saat ini. Ia tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan Adreanne dan Lily. “Kalau gitu kita pulang aja,” kata Adreanne, samar-samar terdengar di telinga Edzard yang sedang melamun. “Lo berdua langsung pulang? Woi Zard!” sentakan dari Damien membuat Edzard tersentak kaget dan menatap laki-laki itu cepat. “I-iya, langsung pulang,” jawab Edzard cepat namun terbata-bata. “Ya udah, kalau gitu gue, Rea sama Lily cabut duluan,”  ujar Damien. Edzard menganggukkan kepalanya. Setelah ketiga manusia itu pergi, Edzard membalikkan tubuhnya dan menghampiri dua sosok yang sejak tadi menyita perhatiannya. Dante dengan kelabakan mengikuti langkah lebar Edzard. “Tunggu! Jangan pergi dulu,” ujar Edzard pada Lionel yang hendak melangkah pergi bersama Rion. Lionel menatap wajah Edzard dengan datar. “Apakah kita saling mengenal?” tanya Lionel. “Kalian tidak mengenaliku, tapi aku tahu kalian siapa,” balas Edzard serius. Refleks Lionel menolehkan kepalanya menatap bawahannya Rion. Kekagetan Lionel dengan cepat disembunyikan, lelaki itu menormalkan ekspresi wajahnya dengan cepat. “Oh ya?” Edzard tersenyum miring. “Bagaimana, ya? Aku tahu kau adalah salah satu kaum Myrania.” Ekspresi santai Lionel berubah menjadi kaku. Rahang Lionel mengeras dan ia mengepalkan kedua tangannya. Tidak jauh berbeda dengan Lionel, Rion memasang wajah terkejut dan bersikap waspada. “Ada baiknya kita bicarakan ini diluar, apa kau mau percakapan kita didengar oleh para manusia yang berlalu lalang?” kelakar Edzard menyeringai. Lionel memperhatikan sekitarnya, memang Mall ini sangat ramai. Terlebih sekarang sudah malam. “Baiklah.” Edzard membawa Lionel dan Rion keluar dari Mall, pemuda itu menyuruh Lionel dan Rion untuk masuk ke dalam mobilnya. Namun keduanya langsung menolak. “Kami membawa kendaraan sendiri.” “Di mana mobilmu? Biar Dante yang membawanya,” ujar Edzard santai. “Kau yakin? Jika asistenmu pergi berarti kau seorang diri sedangkan aku bersama asistenku. Apa kau tidak takut kami serang?” Lionel menyeringai. “Kata siapa aku takut? Lagi pula asistenmu juga akan pergi bersama Dante. Sudah jangan banyak bicara, masuk!” titah Edzard sangat tegas. “Tapi Pangeran, itu sedikit...” “Jadi kau seorang Pangeran?” sela Lionel melototkan matanya tak percaya. “Kau sangat banyak bicara, ya? Urusan kita tidak akan selesai jika kau banyak bacot,” tukas Edzard jadi kesal sendiri. Lionel menatap Rion kemudian menganggukkan kepalanya. “Asistenku Rion akan pergi bersama pengawalmu,” katanya. “Kalian ikuti saja dari belakang, Dante.” Dante mengangguk paham. Lantas ia dan Rion berjalan menjauh menuju mobil milik Lionel. Edzard menyuruh Lionel untuk masuk ke dua kalinya. Setelah Lionel masuk, ia pun masuk dan segera melajukan kuda besinya. Edzard mengendarai mobilnya dengan kecepatan santai. “Siapa namamu?” tanya Edzard tanpa menolehkan kepalanya ke samping. “Lionel.” “Lionel, salah satu orang penting di Myrania. Bukan kah begitu?” “Dari mana kau tahu itu?” tanya Lionel dengan sinis. “Aku Edzard Ansel Matteo,” ucap Edzard tanpa menanggapi pertanyaan dari Lionel. “Pangeran dari Negeri Airya?!” tanya Lionel tak percaya. Ia memang tahu siapa nama Pangeran di Negeri Airya, namun ia tidak pernah bertemu secara langsung. Wajar jika ia tidak kenal ketika berjumpa tadi. “Apa yang kau inginkan dariku? Untuk apa Pangeran Kerajaan repot-repot menemuiku?” “Aku minta, kau jauhi Adreanne. Ah tidak, bukan gadis itu saja. Namun keluarga Adam,” ujar Edzard serius. Lionel tertawa keras. “Jadi kau dan Adam telah mengenal satu sama lain,” katanya masih dengan derai tawa. “Aku serius. Jika kau berpikir Adreanne bisa menjadi pemimpin yang baik untuk Myrania, kau salah besar. Gadis itu tidak tahu apa-apa,” ujar Edzard dingin. “Aku tahu Kerajaan kalian sangat tertutup, dan juga Raja yang memerintah sekarang sangat tidak kompeten. Tapi jangan libatkan keluarga Adam lagi. Jika ingin menyingkirkan Raja sekarang, tinggal lengserkan dan buat dia turun tahta. Selesai. Dan kekuasaan kalian atur sendiri, siapa yang berhak menjadi Raja selanjutnya,” lanjut Edzard dengan santai. “Tidak ada yang boleh menjadi Raja jika bukan keturunan asli Myrania,” desis Lionel. Kini, giliran Edzard yang tertawa keras. “Kau tahu sendiri, jika bukan keturunan asli tidak bisa memimpin. Apa kau tidak berpikir bahwa Adreanne adalah darah campuran?” Masuk akal. Namun Lionel tampak masih bersikukuh. “Dia keturunan langsung dari Pangeran Mahkota terdahulu, yaitu Adam. Dia termasuk berhak. Terlebih kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuh gadis itu sangat luar biasa.” “Jadi kau menolak permintaanku?” Edzard mendengus tak percaya. Sejauh ini yang berhasil menolak permintaannya hanya kedua orangtuanya dan Adreanne saja. Lionel yang bukan siapa-siapa berani padanya. Terlebih dengan beraninya lelaki itu berbicara dengan nada santai padanya. Tidak ada hormat-hormatnya sama sekali pada seorang Pangeran. “Tentu saja. Lagian siapa dirimu seenaknya saja menyuruhku menghentikan rencanaku.” Lionel membuang pandangannya keluar jendela. Jelas saja ia terlihat tidak takut pada Edzard yang notabenenya memiliki kekuasaan di atasnya. Edzard menghentikan laju mobilnya tiba-tiba. Beruntung daerah yang mereka lewati cukup sepi dan hanya ada mobil yang dikendarai Dante di belakang mobilnya. “Turunlah, sepertinya kau memang susah dijinakkan,” usir Edzard. Lionel segera turun dan berjalan ke mobil belakang, begitu pula dengan Dante yang keluar dan segera masuk ke mobil sang Pangeran. Edzard segera melajukan mobilnya kembali, meninggalkan mobil Lionel dan bawahannya bernama Rion. “Bagaimana? Anda sudah bicara dengannya Pangeran?” Dante terlihat sangat penasaran. “Sudah, dan dia cukup keras kepala. Tidak bisa hanya dengan sebuah peringatan. Kita harus mencari cara lain.” “Jadi dia akan tetap memaksa dan menjalankan rencana jahatnya?” tanya Dante memastikan. Edzard mengangguk samar. “Tapi tenang saja, semua itu tidak akan terjadi. Aku akan mengatasi satu hama itu.” “Anda akan melenyapkannya?” Edzard terkekeh pelan. Kekehan yang terdengar sedikit menyeramkan bagi Dante. “Kau memang tahu apa yang akan aku lakukan.” Dante tertegun. Benar, berarti Edzard akan melenyapkan dua makhluk itu. “Apa akan baik-baik saja, Pangeran? Akan ada masalah jika ada yang tahu kalau anda membuat masalah dengan kaum Myrania,” ujar Dante cemas. Edzard tersenyum miring. “Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku akan bermain cantik.” Dante menghela napasnya berat. Ia memang tidak bisa mengubah rencana Edzard lagi sekarang. Dante hanya bisa berharap, semua akan berjalan mulus nantinya. Tidak ada banyak kecurigaan di sana dan di sini. Sesampainya di rumah, Edzard memasuki kamarnya dan berganti baju. Ia mengganti seluruh pakaiannya dengan warna hitam. “Pinjamkan aku kekuatanmu.” Dante memutar bola matanya. Kalau sudah begini, bagaimana bisa ia menolak. “Lain kali, saat dikunjungi Raja Philips, mintalah kekuatan anda kembali. Jangan hanya sayap,” dengusnya kesal. “Itu akan susah. Sudahlah, lakukan perintahku!” Dante mengambil telapak tangan Edzard lalu memejamkan matanya. Ia memposisikan setengah dirinya masuk ke dalam jiwa Edzard. Tentu saja yang masuk adalah kekuatannya. “Jangan pergi lebih dari lima jam, Pangeran,” peringat Dante setelah meminjamkan kekuatannya. “Iya. Tunggu aku.” Edzard langsung meninggalkan rumahnya. Dengan sayap yang ia miliki. Edzard terbang dengan ketinggian teratas. Tentu saja ia terbang di balik awan. Akan bahaya jika seseorang melihat sosoknya dari bawah sana. Edzard memejamkan matanya menikmati angin malam dan suasana malam yang sejuk. Bau tubuh Lionel masih melekat di indera penciumannya. Tentu saja hal itu akan membuatnya langsung mengetahui di mana posisi Lionel saat ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN