Edzard kembali ke rumah dalam satu jam, dengan wajah lelah dan juga baju yang kusut. Namun tidak ada noda darah ataupun kotoran yang lengket di bajunya.
“Kekuatan mereka jauh lebih besar dari pada kekuatanmu,” kata Edzard dengan pelan.
Dante duduk di samping Edzard lalu mengambil kekuatannya. “Anda sudah berhasil kan melenyapkan mereka.”
Edzard menganggukkan kepalanya. “Walaupun kekuatanmu lemah, aku bisa mengatasi semuanya,” ujar Edzard dengan terselip ejekan dikalimatnya.
Dante memutar bola matanya malas. “Ya sudah, kalau begitu lebih baik anda tidur. Sudah pukul sepuluh malam sekarang,” tukasnya sarkas.
Edzard mengangguk samar lalu bangkit dan berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya.
Besok, ia harus menyembunyikan fakta ini dari Adam. Jika Adam tahu ia telah membereskan dua makhluk itu, bisa-bisa Adam merasa sangat aman dan membatasi ruangnya mendekati Adreanne.
Edzard menjatuhkan dirinya di kasur dan memejamkan matanya. Tidak butuh waktu yang lama, ia sudah memasuki dunia mimpi.
Hari ini, benar-benar hari yang melelahkan.
***
Edzard dan Dante menuju rumah Adreanne pagi ini. Kali ini, Dante lah yang menyetir, sementara Edzard di kursi sebelah Dante memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan lesu.
Tengah malam ia terjaga dan tidak bisa tidur kemudian. Sebuah mimpi mengerikan tiba-tiba menghantui tidurnya. Di dalam mimpi itu, Kerajaannya sedang berperang dengan beberapa Kerajaan lainnya. Saat itu Ayahnya gugur dalam perang, namun Kerajaannya tidak seorang diri. Kerajaan Voresha berada di kubu kerajaannya, memmihak kerajaan Airya. Termasuk Adelard.
Edzard cukup senang melihat Adelard sudah tidak menyimpan dendam pada dirinya lagi, walaupun itu hanya di dalam mimpi. Ia berharap, Adelard benar-benar sudah bisa mengikhlaskan masa lalu, dan kembali menjalin hubungan pertemanan yang baik dengannya.
Edzard ingat sekali, awal mula perang terjadi karena Negeri tetangga yang bernama Lemachia mulai mencari gara-gara. Salah satu bangsawan di Lemachia mengklaim sebuah sumur besar di perbatasan adalah wilayahnya dan menggusur secara paksa rakyat Airya yang bermukim di area sana. Tak hanya sumur, beberapa wilayah pertanian juga di klaim sebagai hak milik si bangsawan itu. hanya itu yang Edzard ingat, ia tidak tahu kenapa masalah kecil jadi membesar seperti ini. Hingga menimbulkan perang. Namun konon katanya, di dalam sumur itu terdapat bongkahan emas yang besar. Hal itu lah yang membuat bangsawan dari Lemachia mengaku-ngaku dan membuat masalah jadi besar.
“Sudah sampai, Pangeran.”
Edzard membuka kedua matanya dan menoleh ke arah pintu rumah Adreanne yang terbuka lebar, seolah tahu akan ada tamu yang datang.
“Kau di sini saja.” Edzard membuka seatbelt nya dan keluar. Cowok itu membunyikan bel rumah dua kali, hingga terlihat batang hidung Tika.
“Pagi, Bunda,” sapa Edzard kemudian mencium punggung tangan Tika.
“Iya, Pagi juga. Kamu datang sangat cepat. Si Rea belum siap tuh,” ujar Tika seraya terkekeh.
“Nggak apa, Bunda. Aku tungguin kok.”
Tika mengangguk samar, matanya tidak sengaja menatap ke dalam mobil Edzard. “Eh itu kamu bawa siapa?”
“Sepupu, Bun. Bareng dia juga.”
Tika memangut paham. “Suruh turun aja dan ikut masuk. Kamu udah sarapan belum?”
Edzard tahu betul, setelah ini pasti Tika akan menawarkan sarapan padanya. Untungnya tadi ia tidak sarapan apapun, karena bahan makanan sudah habis di kulkas.
“Belum, Bunda.”
“Ya udah, kita sarapan bersama. Ajak sepupu kamu juga.”
Edzard melebarkan senyumnya, tepat seperti dugaannya. “Oke, Bunda.”
Edzard kembali ke mobilnya dan menyuruh Dante untuk turun. Setelah menjelaskan pada Dante, akhirnya Dante mematikan mesin mobilnya dan ikut keluar. Mereka berjalan memasuki rumah bersamaan.
Tika langsung membawa keduanya menuju ruang makan yang sudah ada Adam seorang diri, sedang menyeruput kopinya seraya membaca sebuah koran. Tatapan Adam beralih pada Edzard dan Dante.
Dahinya mengernyit samar melihat Dante. Beberapa detik kemudian baru ia sadari bahwa Dante satu jenis dengan Edzard.
“Mau numpang makan?” tanya Adam sedikit ketus.
“Ayah, jangan gitu ah,” tegur Tika.
Adam memutar bola matanya malas. “Duduklah, putriku belum siap-siap.”
Edzard dan Dante refleks duduk dengan kompak.
Dante tampak sangat ngiler melihat berbagai jenis makanan yang tersaji di meja makan. Biasanya, setiap pagi, ia dan Edzard hanya memakan roti selai cokelat. Tapi di sini, ada nasi goreng, roti bakar, dan beberapa potong kue keju.
“Saya dengar, kamu juga menang dalam olimpiade tempo lalu,” ucap Adam.
Edzard yang sedang meraih kue keju pun menghentikan gerakan tangannya dan menganggukkan kepalanya ke arah Adam.
“Iya, benar Om.”
“Ternyata pintar juga, ya?” Adam kembali bersuara, dengan nada yang terdengar menyebalkan di telinga Edzard.
“Tentu saja, kebetulan saya memiliki kemampuan menghafal yang baik. Apapun yang saya baca dan pelajari, akan langsung lengket di otak,” balas Edzard sedikit menyombongkan dirinya lalu tersenyum lebar.
Merasa tidak ada balasan dari Adam lagi, Edzard kembali melanjutkan gerakan tangannya meraih satu potongan kue keju.
“Eh maaf, kalian udah lama nunggu?” Tiba-tiba muncul Adreanne yang sudah lengkap dengan seragamnya dan tas yang tersampir di punggungnya.
“Not really.”
“Udah kamu sarapan cepat, biar kalian nggak kesiangan juga,” ujar Tika.
Adreanne mengangguk patuh. Ia segera duduk dan meraih sepiring nasi goreng favorit buatan bundanya.
“Bang Dami mana Bun?”
“Biasa ngebo, baru tidur jam dua pagi tadi katanya. Jadi lanjut tidur dia,” jawab Tika seadanya.
“Kalau mereka ada macam-macam sama kamu, langsung kasih tahu Ayah ya,” pesan Adam melirik Edzard dan Dante secara bergantian.
***
Jam istirahat, Nicholas mengajak Edzard dan Dante ke rooftop sekolah, padahal niat awalnya Edzard hendak makan bersama Adreanne dan juga Lily.
“Lo main mulu sama si Adreanne, jangan gitulah. Sesekali ngumpul di sini,” ucap Nicholas yang langsung diangguki oleh Akira.
Edzard memutar bola matanya malas, namun ia tidak protes banyak. Cowok itu duduk di salah satu kursi yang di tumpuk di atas rooftop.
“Mau ngapain sih? Gue lapar,” dengus Edzard.
“Oh masalah itu, si Akira udah bawa camilan kok. Terus gue Cuma ngajak lo nyebat aja,” ucap Nicholas santai.
“Nyebat?” Untuk pertama kalinya, Edzard mendengar kata itu. Terdengar cukup aneh di telinganya.
“Merokok you know,” balas Akira seraya mengeluarkan kotak rokoknya.
Ah benda itu, Edzard tahu. Ia pernah melihatnya, ia juga pernah melihat seseorang menghisap rokok itu dan seetelah itu keluar asap dari mulutnya. Jujur, ia sedikir penasaran karena belum pernah mencobanya. Tapi ia sendiri tidak yakin untuk mencobanya.
“Mau coba?” tawar Nicholas, memberikan satu pada Edzard.
“Nggak, gue makan aja deh.”
“Nggak asik lo, nih snack-nya. Enak tahu makan di sini, adem dan dingin,” cerocos Nicholas.
Edzard mengambil salah satu snack yang di lempar Akira dan membukanya. Memang benar, dari atas sini ia bisa melihat langit yang biru dan juga terasa angin sepoi-sepoi.
“Lo mau nggak?” tawar Nicholas pada Dante yang sadari tadi diam saja dan ikut menyemil snack di tangan Edzard.
“Cobain tuh,” suruh Edzard menyeringai.
Mau tidak mau, Dante menerima satu rokok itu. Nicholas terkekeh kecil dan menghidupkan pematik apinya.
“Isep begini,” tutur Nicholas memberi arahan.
Dante mengikuti arahan dari Nicholas. Hingga tiga detik kemudian ia batuk-batuk hebat. Wajah Dante memerah, ia membuang rokok itu dan langsung menenangkan dirinya sendiri.
“Nggak enak, bikin sesak,” sungut Dante kesal. Beruntung rasa sesak yang ia rasakan tidak begitu lamar, napasnya mulai beraturan kembali.
Sontak Nicholas, Akira dan Edzard tertawa mendengarnya.
“Nggak pro lo itu, ya udah deh jangan coba-coba lagi,” kata Nicholas masih dengan derai tawa.
***
Adreanne dan Lily memesan siomay dan batagor dengan cepat. Setelah mendapatkan pesanan, mereka langsung duduk di salah satu tempat yang kebetulan langsung kosong setelah ditinggal oleh orang sebelumnya.
“Aku boleh duduk di sini?”
Adreanne mengangkat kepalanya mendengar suara yang tidak asing itu, ternyata Adelard lah yang berdiri di sampingnya.
“Boleh kok!” jawab Lily cepat. Gadis itu seolah jatuh dalam pesona Adelard yang cukup mematikan.
Adelard tersenyum dan mengucapkan terimakasih dengan cepat. Ia langsung duduk di sebeleah Adreanne.
Tidak ada percakapan di antara mereka. Masing-masing pada sibuk dengan makanan.
“Lo kelas mana deh? Anak baru kan ya?” tanya Lily heran.
“Tepat di sebelah kelas kalian, udah nggak anak baru lagi sih. Udah sebulah lebih gue di sini,” jawab Adelard yang mengubah gaya bahasanya menjadi gue.
“Oh iya juga sih.”
Keheningan kembali menyapa. Sesekali mata Adelard melirik Adreanne di sebelahnya yang tampak tak tertarik untuk membuat sebuah topik.
“Aduh, Re. Perut gue sakit!” ringis Lily.
“Makanya sausnya jangan kebayakan tadi,” omel Adreanne.
“Gue ke toilet dulu, lo di sini aja,” ujar Lily cepat. Tanpa menunggu balasan dari Adreanne, ia melesat pergi meninggalkan kantin.
“Ekhem, ekhem,” dehem Adelard pelan. Berusaha menarik perhatian Adreanne masih tampak acuh.
“Kenapa batuk-batuk gitu?” sahut Adreanne sok judes.
“Ntar sore ada waktu?”
“Kenapa?”
“Ingat yang aku bilang tempo lalu? Mau ngajakin kamu ke suatu tempat.”
Adreanne mengangguk. “Ingat sih.”
“Nah nanti sore bisa nggak? Aku jemput nanti,” lontar Adelard seperti membujuk.
Adreanne tampak berpikir sebentar kemudian mengangguk. “Oke, boleh.”
Adelard tersenyum. “Okay, nanti aku kabari lewat chat. Minta nomor kamu.” Lelaki itu menyodorkan ponselnya.
Kepala Adreanne miring ke kiri, aslinya terangkat naik. “Bukannya udah, ya?”
“Aku ganti ponsel, nomornya hilang,” ungkap Adelard.
Adreanne mengambil ponsel Adelard dan mengetikkan nomornya di benda pipih itu.
“Okay, see you nanti sore. Aku udah selesai makan, mau ke perpustakaan dulu.”
Adreanne menganggukkan kepalanya. “Okay.”
Adelard bangkit dan bergegas meninggalkan kantin.
Setelah kepergian Adelard, Adreanne buru-buru menghabiskan makanannya. Setelah piringnya bersih, ia bangkit dan mengayunkan kakinya menuju toilet. Ia harus memeriksa juga, apakah sahabatnya baik-baik saja di sana.