Aku dan Mas Dewa makan dalam diam. Nggak ada satu pun dari kami yang berniat untuk mengeluarkan suara, baik aku maupun Mas Dewa. Pria itu sibuk dengan makanannya, sedangkan aku sendiri sibuk dengan pikiranku sendiri. Mas Dewa meraih selembar tisu dari kotak yang ada di sisi meja dan mengelap permukaan bibirnya setelah menandaskan makanan yang ada di piringnya. Pria itu menatapku yang baru saja menghabiskan satu piring dari semua makanan yang aku pesan tadi. Entah apa yang lucu, tetapi Mas Dewa tiba-tiba menyemburkan tawanya ketika menatapku. Masih bisa-bisanya pria ini ketawa? Lagi pula, nggak ada yang lucu juga di sini, batinku berpikir di dalam hati. "Mau nambah lagi? Kayaknya kurang banyak itu," seloroh Mas Dewa dengan nada meledek yang kentara pada kalimatnya. Ucapan pria itu sukses