Meskipun aku masih marah dengan Mas Dewa, tetapi aku nggak melalaikan tugasku dan tetap menyiapkan makan siang untuk pria itu. Setelah menyantap makan siang di ruang makan dalam keadaan hening, Mas Dewa langsung beranjak dan naik ke lantai aja. Sementara itu, aku mencuci peralatan masak dan alat-alat makan yang baru kami gunakan. Sebenarnya itu adalah pekerjaan Bik Tanti, tetapi karena beliau sedang menjemur baju di lantai atas, maka aku berinisiatif untuk membantu beliau karena kebetulan aku juga sedang gabut dan nggak memiliki kegiatan yang bisa aku kerjakan. Aku baru saja mengelap tangan di kain khusus yang tergantung di dekat lemari pendingin dan Laquinna tiba-tiba berlari kecil menghampiriku. "Bunda ... cookies-nya udah siap?" tanya Laquinna yang sudah berdiri di sisiku. Mendenga

