Aku tertegun ketika mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Mas Dewa. Mataku beralih dari yang awalnya menatap pada wajah Mas Dewa, kini berpindah pada jari manisku. Memang nggak ada satu pun cincin yang terlingkar di sana. "It—itu cincinnya ada di ... kamar, Mas," cicitku dengan kepala yang masih setia menunduk dan menatap pada jariku. Aku tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk menatap kembali pada sosok yang sedang berdiri di hadapanku saat ini. "Kenapa dilepas?" tanya Mas Dewa sekali lagi. “Kasih aku satu alasan yang masuk di akal dan bisa aku terima,” titah pria itu melanjutkan. Nggak dilepas aja udah kena tindas di kampus, apalagi kalau aku pakai terus cincin shining, shimmering, splendid ini. Alamat bisa kena bereng sampai lulus nanti, gumamku pada diri sendiri di dal