Bab 1 Awal Permulaan
Part 1.
"Kamu masih singel kan Nindy?"
Nindy menaikan sebelah alisnya dengan heran. Tidak biasanya bosnya itu menanyakan hal pribadi seperti ini pada dirinya. Dia sangat yakin kalau bos dinginnya itu ingin membicarakan sesuatu padanya.
"Em, belum Pak."
"Bagus," seringai dari wajah Aldi membuat Nindy bergidik ngeri.
"Kok bagus?"
"Artinya kamu tidak keberatan bukan untuk jadi istriku?"
Aldi mengatakan itu dengan santai sambil menumpang kaki sebelah kirnya di sofa yang ada di dalam kantornya ini.
"Maaf Pak..."
Belum sempat Nindy menolak ajakan gila itu, Aldi sudah lebih dulu mengucapakan ultimatum nya pada Nindy agar wanita itu tidak akan melakukan penolakan.
"Saya tidak menerima penolakan!"
Nindy menatap tajam bosnya itu, demi apapun juga kali ini dia sudah dibuat kesal. Aldi memang membuat keputusan semaunya sendiri dan ini membuat dia benci.
Pria yang di mata Nindy sangat egois. Ini yang membuat dia malah kesal. Demi tuhan, apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti?
"Kenapa sekarang Pak Aldi malah mengatur hidup saya! Pokonya saya gak mau menikah dengan Pak Aldi!"
"Kamu yakin menolak saya Nindy? Apa kamu sudah siap kehilangan pekerjaanmu?"
Deg...
Kalau sudah menyangkut dengan urusan pekerjaan seperti ini maka, Nindy menjadi ciut sendiri. Apalagi ada misi yang belum dia selesaikan di sini.
Nindy harus mengetahui siapa orang yang sudah membuat ayahnya berada di dalam jeruji besi. Dia bekerja di tempat ini bukan tanpa alasan. Dulu ayahnya di fitnah melakukan korupsi di kantor ini. Dia ingin membersihkan nama ayahnya. Termasuk dengan menyembunyikan identitas yang sebenarnya.
"Bagaimana?" tanya Aldi ketika melihat Nindy yang terdiam.
"Saya mau."
Mendengar hal tersebut lantas Aldi tersenyum dengan seringainya. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan pesona dirinya. Wanita seperti Nindy pasti akan menuruti keinginan dirinya.
"Good girl. Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya!"
Aldi mengibaskan tangannya mengusir Nindy.
Sedangkan Nindy malah terlihat kesal dan dia menghentakkan kakinya. Wanita itu tidak punya pilihan lain daripada dia harus hengkang dari perusahaan ini.
Aldi melihat kepergian dari Nindy, lalu dia tersenyum dengan penuh arti ketika melihat kepergian dari Nindy.
"Wanita bodoh, memangnya aku tidak tidak siapa dirimu yang sebenarnya? Kita lihat setelah ini, apa kamu masih bisa beracting lagi."
Aldi tersenyum dengan seringai jahatnya. Jauh dari apa yang Nindy tau. Aldi sudah mengetahui kalau Nindy adalah anak dari seorang koruptor di perusahaan nya dulu. Entah apa maksud wanita itu mau bekerja di sini. Aldi hanya ingin bermain-main dengan melihat trik licik Nindy.
Tentang Aldi yang memang mengajak nikah Nindy, bukan tanpa alasan dia melakukan itu semuanya. Keluarganya terus mendesak dirinya untuk menikah. Dan dia tidak dekat dengan wanita. Dia milih Nindy sebagai calon istrinya agar dia bisa lebih mudah melihat gerak-gerik wanita itu.
"Nindy, kita lihat apa yang bisa aku lakukan nanti."
****
Nindy merasa kesal, bagaimana mungkin bosnya itu malah mengajak dirinya untuk menikah. Tapi jika memang dia menikah dengan Aldi artinya akan semakin gampang dia menemukan orang yang sudah menjebak ayahnya.
"Kenapa mukamu ditekuk kaya gitu?" tanya Risa pada Nindy.
Risa sendiri adalah salah satu karyawan yang bekerja di kantor ini. Dia berteman dengan Nindy semenjak bekerja di tempat ini.
"Aku sedang kesal! Kamu tau apa yang aku pikirkan saat ini?" cerita Nindya pada Risa.
"Kenapa?"
"Pak Aldi memintaku untuk menjadi istrinya? Ini benar-benar hal gila!"
"Wah serius? Selamat yah." Risa malah mengucapakan selamat pada Nindy dan terlihat senang.
Nindy memutar bola matanya jengah, dia kira Risa paham dengan keadaan dirinya saat ini. "kamu malah mengucapakan selamat! Aku sedang kesal tau!"
"Bukannya bagus, kamu akan menjadi istri bos. Ini adalah kesempatan yang bagus untukmu. Kamu tuh termasuk orang yang beruntung yang di pilih bos untuk menjadi pendamping hidupnya," cerocos Risa menasehati temannya.
Nindy menggelengkan kepalanya, ini tidak benar sama sekali. Bagaimana bisa dia malah jadi seperti ini. Bagi dirinya Aldi adalah pria yang menyebalkan. Dia tidak mau nanti pria itu malah semakin mengatur kehidupannya.
"Aku beruntung? No! Yang ada aku yang kena musibah ini."
"Hei Nindy! Dengarkan aku, banyak orang yang ingin menjadi istri dari Pak Aldi. Kamu orang yang dipilih."
"Sudah aku tidak mau berdebat!"
Nindy malas menanggapi ucapan Risa. Wanita itu tidak mengerti dengan keadaannya saat ini. Mungkin orang mengira menikah dengan bos itu adalah sebuah keberuntungan. Tapi tidak dengan dirinya. Ini sama saja seperti bencana. Apalagi dia sudah tau sikap bosnya seperti ini.
Nindy sudah bekerja di kantor ini selama kurang lebih satu tahun. Dia sudah bisa bertahan dengan bosnya yang dingin dan so perfeksionis itu.
"Kamu ini di bilangin malah ngeyel."
Nindy tidak menanggapi lagi, dia lebih fokus pada makan siangnya. Risa juga tidak banyak berdebat karena melihat Nindy yang diam.
Sampai pada akhirnya, mata Risa melihat kearah Aldi.
"Itu Pak Bos datang," bisik Risa.
Nindy menatap kearah mata Risa dan melihat Aldi berjalan ke arah sini. Nindy menaikan sebelah alisnya, pria itu sedang berjalan menuju kearah ini.
"Boleh saya berbicara dengan Nindy?" tanya Aldi.
Risa yang paham lalu menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya dia langsung berdiri dan hendak akan pergi dari bangku ini. Risa sangat paham dengan situs seperti ini. Dia akan membiarkan Nindy berdua dengan Bosnya.
"Kamu mau ke mana Risa?" tanya Nindy yang malas jika harus berdua dengan Aldi.
"Eh, aku mau cari bangku lain."
Risa mengatakan itu pada Nindy lalu pergi dengan begitu saja. Meninggalkan Nindy yang kini bersama dengan Aldi.
Aldi duduk di tempat yang tadi di duduki oleh Risa. Dia menatap kearah Nindya dengan sekilas.
"Ada apa Pak Aldi menemui saya di kantin seperti ini?" tanya Nindy pada Aldi.
"Saya sengaja menemui kamu di sini. Karena ada hal pribadi yang ingin dibicarakan."
Mendengar perkataan pribadi dari mulut Aldi, rasanya malah membuat Nindy takut. Pasti ini ada hubungannya dengan ajakan pria itu.
"Katakan saja Pak," ucap Nindy dengan tenang.
"Saya ingin bertemu dengan orangtua kamu sebelum menikah."
Deg...
Bagaimana ini? Jika Aldi menemui kedua orangtuanya maka, semuanya akan terbongkar. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Kenapa? Apa kamu keberatan? Saya hanya ingin meminta izin kepada mereka saja kalau akan menikahi putrinya?"
"Aku.. hm," Nindy terlihat kebingungan sekarang.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu tentang keluargamu?"
"Tidak! Nanti weekend kita bertemu," jawab Nindy dengan cepat.
Padahal saat ini dia sedang panik. Bagaimana mungkin nanti identitas keluarganya akan terbongkar. Apa yang harus dia lakukan? Menolak pernikahan ini juga rasanya tidak mungkin.
BERSAMBUNG
______________________