Bab 2 Permintaan Konyol Aldi

1016 Kata
"Ah sial!" Nindy memaki dirinya sendiri di dalam kamarnya. Dia tidak tau harus melakukan apalagi sekarang. Bagaimana dia memperkenalkan kedua orangtuanya pada Aldi. Pria itu pasti akan tau semuanya. "Aku harus memikirkan cara agar pria itu tidak curiga." Nindy mengambil ponselnya dan dia menghubungi sepupunya. Beruntung sekali dia punya sepupu yang memang bisa dia andalkan. "Hallo." "Kenapa Nindy." "Aku butuh bantuanmu!" "Ada apa? Katakan saja Nindy." Nindy tersenyum dengan penuh arti, dia akan melakukan apapun demi bisa membebaskan ayahnya. Karena memang Nindy sangat yakin kalau ayahnya tidak korupsi sama sekali. "Aku butuh dua orang pria dan wanita paruh baya untuk menjadi ibu dan ayahku." "Untuk apa Nindy?" "Carikan saja! Nanti aku jelaskan!" Nindy langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia memang sengaja melakukan itu semuanya. Jangan sampai nanti rencana yang dia buat gagal. Nindy handak akan pergi tapi, tiba-tiba dia mendengar suara dari depan. Sepertinya ada orang yang ingin datang ke sini. Nindy mengerutkan keningnya dengan heran. "Siapa?" Tanpa berpikir panjang, akhirnya Nindy memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Luar bisa terkejut dia ketika melihat siapa orang yang kini ada di hadapannya. Dia adalah Bos nya. Pria itu datang ke sini tanpa dia minta sama sekali. "Hai." Nindy melihat kearah Aldi yang tidak bisanya datang ke sini. Pria itu membawakan sebuah kotak berwarna silver. "Eh Pak Aldi." Kenapa sekarang Nindy malah jadi tidak tau harus melakukan apalagi. Terlihat bosnya yang terus sama menatap dirinya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. "Apa kamu tidak ingin membiarkan saya masuk?" "Silahkan masuk, Pak." Aldi akhirnya masuk ke dalam apartemen Nindy yang memang ini adalah salah satu fasilitas dari kantornya. Aldi masuk ke dalam dan dia duduk di sofa. Nindy hanya melihatnya dengan sekilas. "Pak Aldi mau minum?" tawar Nindy. "Tidak, saya hanya ingin memberikan ini saja untukmu," ucap Aldi. "Kalau cuman mau memberikan itu, kenapa juga harus masuk ke dalam," gerutu Nindy dengan pelan. Tapi, masih bisa terdengar oleh Aldi. "Kamu bilang apa?" "Eh tidak Pak hehe.." Nindy malah tersenyum tipis tanpa dosa. Dia langsung menerima apa yang diberikan oleh Aldi padanya. "Buka!" seru Aldi pada Nindy. "Pak Aldi menyuruh saya untuk membuka baju? Jangan karena Pak Aldi mau menikah dengan saya lalu, Pak Aldi malah seenaknya saja menyuruh saya untuk membuka baju!" maki Nindy yang kini kesal dengan Bosnya itu. Pria itu malah seenaknya saja padanya. Membuat dia jadi malah kesal sendiri. Aldi mendengus ketika mendengar ocehan dari Nindy. Wanita itu pikirannya malah menuju ke arah lain. Padahal dia sama sekali untuk berpikir ke sana. "Bukan itu! Buka hadiah dari saya!" Bisa dibayangkan saat ini pipi Nindy memerah karena malu. Wanita itu tadi berpikir yang aneh-aneh. Dia benar-benar sudah malu sekarang. "Baik." Nindy kembali mengontrol ekspresinya dengan sekilas. Dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Kali ini dia sudah dibuat malu oleh Aldi. Akhirnya Nindy membuka kotak itu karena memang penasaran. Memangnya apa yang diberikan pria itu padanya. "Baju?" "Iya, ini adalah baju yang akan kamu pakai nanti. Baju ini kamu gunakan ketika datang menemui kedua orangtua saya." Nindy membulatkan matanya, pria yang ada di depannya itu sudah percaya padanya dengan mempertemukan dirinya dengan kedua orangtua pria itu. "Kapan kita akan ketemu dengan orang tua Pak Aldi, bukannya weekend nanti akan menemui kedua orangtua saya dulu?" tanya Nindy meminta pendapat dari Aldi. "Kamu benar, weekend akan menemui keluarga kamu. Tapi besok saya akan cuti dan kita akan datang menemui kedua orangtua saya." Nindy membulatkan matanya, pria yang ada di hadapannya memang main seenaknya sendiri. Jadi besok dia akan cuti satu hari demi bertemu dengan orang tua Aldi. Bagaimana nanti kalau kelurga Aldi banyak bertanya padanya? Ini malah akan membuat dia jadi kesal. "Saya belum siap jika harus bertemu dulu dengan keluarga Pak Aldi." Nindy mengatakan itu dengan jujur, dia takut nanti identitasnya malah terbongkar. Bagaimana caranya dia menghindari kalau sudah seperti ini. "Siap gak siap kamu harus bertemu dengan mereka. Kamu tau alasan saya mau menikah denganmu itu hm? Saya melakukan itu karena tidak mau di desak terus oleh mereka untuk menikah," jelas Aldi. Jadi itu alasan Aldi yang sebenarnya, Nindy jadi lebih lega sekarang. Dia kira karena bosnya itu sudah mulai curiga dengan dirinya karena memang dia mempunyai misi untuk membebaskan ayahnya. Bagus deh kalau hanya itu saja, tapi bagaimana dia bisa bertemu dengan keluarganya. "Kenapa Pak Aldi tidak pilih wanita lain saja? Bukannya banyak wanita cantik diluar sana?" tanya Nindy yang memang penasaran. Bagaimana mungkin Aldi bisa memilih dirinya sebagai seorang istri? Dia bahkan tidak tau kenapa semuanya malah jadi seperti ini. "Karena kamu mudah saya kendalikan," jawab Aldi lalu kini dia langsung berdiri. Nindy menatap tajam ke arah Aldi, sungguh dia kesal dengan jawaban yang dilontarkan oleh pria itu. Demi apapun juga, apa katanya tadi? Dia mudah dikendalikan? Jadi ini alasannya kenapa dia yang dipilih. "Jadi maksud Pak Aldi saya mudah dikendalikan begitu?" kesal Nindy memutar bola matanya jengah ketika melihat ini semuanya. "Iya karena kamu adalah bawahan saya. Jangan banyak debat. Saya pamit dulu." Aldi mengatakan itu lalu dia pergi dengan begitu saja. Demi apapun juga Nindy kesal dengan jawaban yang dilontarkan oleh Aldi barusan. Pria itu malah semena-mena padanya hanya karena dia bawahannya. "Menyebalkan!" maki Nindy setelah melihat Aldi menutup pintu apartemennya. Kalau saja dia bukan bosnya di kantor, sudah Nindy maki dari tadi. Permintaan macam apa yang bos nya ajukan itu. Membuat dia merasa malas harus ada dibalik kendali pria tersebut. Aldi keluar dari apartemen Nindy, dia tersenyum dengan penuh arti setelah keluar. "Kamu pikir bisa pintar seperti diriku Nindy? Tapi aku penasaran dengan rencananya?" seringai devil dari wajah Aldi setelah dia berjalan keluar apartemen milik Nindy. Aldi bukan orang sembarangan dan dia tau semuanya tentang Nindy. Dia sengaja ingin bermain-main dulu dengan wanita itu. Selama kurang lebih satu tahun ini Nindy belum juga bergerak. Aldi meyakini kalau Nindy akan balas dendam karena ayahnya sudah dijebloskan ke penjara oleh keluarga. Namun, sampai saat ini Nindy belum melakukan apapun juga termasuk untuk mencelakai dirinya. Aldi sengaja ingin menjadikan Nindy istrinya agar lebih memudahkan wanita itu untuk mencelakai dirinya. Dengan begitu dia akan lebih mudah menggep Nindy nantinya. "Sepertinya rencana ku lebih bagus dibandingkan dengan rencana mu Nindy. Kita liat siapa yang paling licik diantara kita." BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN