Bab 3 Bertemu Keluarga Aldi

1007 Kata
Nindy bangun dari tidurnya karena melihat ada cahaya yang menganggu retina matanya. Dia menguap dan melihat bukan hanya ada dirinya di tempat ini. Tapi juga ada Aldi. Nindy mengucek matanya memastikan penglihatannya. Dia sedang tidak mimpi bukan? Bagaimana bisa pria itu masuk ke dalam apartemen dirinya. "Sudah bangun hm?" "Pak Aldi, kenapa bisa ada di sini?" marah Nindy ketika menyadari kalau benar orang yang ada di hadapannya itu adalah Aldi. Berbagai macam pertanyaan yang ada di kepala Nindy saat ini. Bagaimana Aldi bisa masuk ke dalam kamarnya seperti ini. Sungguh dia sudah dibuat malu sekarang. Pria itu memang tidak tau etika sama sekali. "Mudah saja bagiku untuk masuk ke dalam apartemen ini. Apalagi ini salah satu fasilitas yang diberikan oleh perusahaan." Aldi mengatakan itu dengan santai, sedangkan Nindy mencebikan bibirnya, pria itu pasti menggunakan jabatannya untuk membuat semua orang tunduk padanya. Lalu Nindy menyadari kalau saat ini dia hanya menggunakan tank top saja. Dia langsung mengambil selimutnya untuk menutupi bagian tubuhnya itu. "Pak Aldi, lebih baik keluar dulu dari kamar saya!" ketus Nindy karena memang malu. Aldi malah berdecih, "padahal aku sudah melihatnya tadi ketika kamu masih tidur," ujarnya dengan santai. Nindy malu, astaga! Tubuhnya sudah ternodai oleh mata jelalatan bosnya. Pria itu main asal masuk saja ke dalam apartemennya lalu masuk ke dalam kamar yang menurutnya privasinya. "Pak Aldi, Keluar!" "Iya saya keluar!" Aldi tidak mau berdebat dengan wanita merepotkan seperti Nindy. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar sambil menunggu wanita itu yang mungkin saja akan mandi. Aldi tersenyum tipis, lalu dia duduk di sofa tamu. Padahal niatnya pagi-pagi ke sini hanya karena ingin mencari sesuatu. Dia sedang mencari bukti kejahatan yang pasti akan dilakukan oleh Nindy. Tapi setelah dia mencarinya tidak menemukannya sama sekali. Nindy seperti wanita pintar yang bisa menyembunyikan sesuatu, tapi Aldi tetap licik menggunakan sesuatu agar bisa mendapatkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nindy. Aldi yakin kalau Nindy punya rencana busuk untuk keluarganya. Aldi hanya menunggu Nindy saja lalu dia melihat kearah ruangan ini. Tidak ada foto dari keluarganya. Ini yang membuat Aldi jadi tersenyum dengan seringainya. Entah apa yang dia rasakan untuk saat ini. "Sudah aku tebak, wanita itu pasti tidak pernah menyimpan fotonya." Aldi bergumam, apalagi dia sudah tau tentang keluarganya. Apa yang dia pikirkan untuk saat ini. Aldi sudah lebih baik akan menjadi hal ini. "Jangan menyentuh barangku!" "Saya hanya sedang memperhatikan saja. Di sini tidak ada foto keluargamu?" Nindy kali ini menatap Aldi, pria itu bahkan tidak menatap sama sekali. Apa yang dia pikirkan untuk saat ini, kenapa saat ini malah dirinya yang dibuat bingung. "Saya memang tidak memasangnya, apa Pak Aldi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga saya?" Nindy membiasakan ekspresi wajahnya agar tidak dicurigai. Dia bahkan tidak sabar dengan apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Sebisa mungkin tidak akan membiarkan Aldi akan curiga padanya. "Tentu saja! Saya sudah tidak sabar bertemu dengan keluargamu. Tapi saat ini kita kan bertemu dengan keluarga saya." Aldi memperhatikan baju yang digunakan oleh Nindy saat ini. Dia tersenyum tipis karena artinya Nindy tidak lupa, wanita itu akan dia perkenalkan kepada keluarganya. "Iya saya tau. Kalau begitu kita berangkat sekarang." Nindy mengatakan itu karena memang dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga yang sudah membuat hidupnya jadi hancur. Dia akan mencari dalang dari semuanya. "Sepertinya kamu antusias sekali." "Bukannya saya harus seperti ini. Beruntung sekali saya jago acting untuk membuat keluarga Pak Aldi tidak akan curiga." Nindy malah menyombongkan dirinya sendiri. Aldi menatapnya dengan pandangan penuh arti. "bukannya biasanya juga kamu acting?" "Maksud Pak Aldi apa?" "Ah, lupakan saja!" Aldi malah mengibaskan tangannya. Dia malah malas berdebat seperti ini dengan Nindy. Apa yang dia pikirkan sudah akan lebih baik. *** Nindy akhirnya sudah sampai di kediaman keluarga Aldi. Bahkan tidak menyangka sama sekali kalau akan lebih mudah bertemu dengan keluarga Aldi. "Ayo masuk." Nindy mengangguk lalu dia berjalan menuju ke dalam rumah yang bisa dibilang sangat mewah. Dia melihat kearah Aldi sekilas. "Kenapa terlihat sangat sepi?" tanya Nindy pada Aldi. "Jangan berbicara formal, ingat kita bisa ketahuan," bisik Aldi pada Nindy. Dia sudah mengatakan itu dan dia paham apa yang sudah terjadi padanya. "Iya Pak Aldi, saya paham." "Bagus!" Aldi malah mengelus kepala Nindy membuat dia malah jadi kesal. Kali ini dia sama sekali tidak terima dengan sentuhan yang membuat dia kesal. "Jangan rusak rambutku!" kesal Nindy. Hingga tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampiri Nindy dan menatap wanita itu dengan pandangan penuh intimasi. Nindy seketika jadi ciut sendiri, entah kenapa dia jadi heran. Apalagi tatapan wanita paruh baya itu terus saja menatap kearah dirinya. "Apa dia orangnya?" tanya wanita paruh baya itu pada Aldi. "Iya dia orangnya," jawab Aldi. Nindy sama sekali belum paham dengan percakapan itu. Apa Aldi sudah memperkenalkan dirinya terlebih dahulu pada wanita paruh baya ini. "Kamu ini kalau pilih pasangan yang bagus dikit kenapa, lagian kenapa gak mau mamah jodohkan dengan wanita pilihan mamah saja!" Nindy baru tau jika wanita paruh baya itu adalah ibunya Aldi. Tapi kenapa tidak ada miripnya sama sekali. Ini yang malah kadang membuat diriku bimbang sendiri. "Hargai wanita yang aku pilih mah!" Aldi mengatakan itu dengan tegas sambil merangkul Nindy, membawa wanita itu untuk duduk di sofa yang ada di sini. Nindy tidak berani mendebat, dia hanya mengikuti tarikannya dari pinggangnya. Nindy sedikit memahami kalau memang ibunya Aldi tidak menyukainya. Dia juga melihat ibunya Aldi berbisik pada seorang pelayan sebelum akhirnya memutuskan untuk menyuruh pelayanan itu pergi lagi. "Nama kamu siapa?" tanya ibunya Aldi. "Nama saya Nindy," jawab Nindy. "Saya Siska, ibunya Aldi. Oh yah, kamu berasal dari keluarga mana?" tanya Siska. Nindy terdiam sejenak, dia tidak mungkin mengatakan tentang keluarganya. Lalu dia menatap kearah Aldi yang sepertinya sedang menunggu jawaban dari dirinya juga. "Em saya dari keluarga biasa Tante." Nindy tersenyum tipis. Tapi rupanya Siska belum puas dengan jawabannya Aldi. Dia tidak tau harus melakukan apalagi setelah ini. Sebisa mungkin dia akan melakukan semuanya dengan baik. "Keluargamu berkerja apa?" tanya Siska. Deg... Nindy harus menjawab apa kalau sudah begini. Bahkan Aldi juga diam saja tidak membantu dirinya. Nindy jadi bingung harus mengatakan apa pada mereka. "Keluarga saya...." BERSAMBUNG ______________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN