Bab 4 Hampir Ketahuan

1030 Kata
"Keluarga saya...." Nindy hendak akan menjawab tapi, ucapannya sudah lebih dulu dipotong oleh Aldi. "Sudahlah mah. Apa itu penting!" seru Aldi dengan melihat kearah ibunya. "Jelas itu penting Aldi, apa kamu mau menikah dengan orang yang tidak tau pekerjaan orangtuanya seperti apa, bisa saja nanti wanita itu memanfaatkan kamu!" "Wanita ini berbeda dengan yang lainnya. Jangan samakan dia!" Aldi berkata dengan tegas. Nindy merasa sangat lega ketika mendengar hal ini. Dia sama sekali tidak menyangka ketika Aldi yang membela dirinya. Dia sama sekali tidak menyangka akan hal ini. "Anak ini, sudahlah. Kamu yang akan menyesal sendiri." "Aku tau apa yang harus aku lakukan mah." Aldi tersenyum sambil menepuk pundak Siska, sedangkan Siska terus saja menatap gerak-gerik dari Nindy. Pandangan dengan penuh kecurigaan. "Papah mana?" tanya Aldi yang kini menatap Siska. "Dia masih ada di luar, nanti juga datang. Kamu duduk di sini dulu saja." Aldi hanya mengangguk dan tidak lama kemudian, ada pelayanan yang membawakan minuman untuk mereka. Siska tersenyum sambil melihat kearah anaknya. Nindy membisikan sesuatu pada telinga Aldi. Entah kenapa dia malah ingin pergi ke toilet. Dia hanya ingin menghindar dari pertanyaan yang pasti akan dilontarkan oleh keluarga Aldi. "Saya ingin ke toilet," bisik Nindy. "Ingat, tidak boleh formal. Apa mau aku antar?" tanya Aldi. "Aku bisa sendiri." Siska menatap dua pasangan ini dengan penuh curiga. Apalagi kalau sudah bisik-bisik seperti ini. Dia jadi yakin kalau memang ada sesuatu yang disembunyikan. "Kalian kenapa malah bisik-bisik kaya gitu?" tanya Siska. "Maaf tante, saya izin untuk pergi ke toilet," ucap Nindy akhirnya memberikan diri mengatakan itu. "Kamu belok kiri saja, atau nanti diantar oleh pelayan ji." "Terimakasih." Nindy akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet diikuti oleh pelayan ji yang memang diperintah oleh Siska. Sekarang hanya ada Siska dan juga Aldi berdua di tempat ini. Jelas kesempatan ini digunakan oleh Siska untuk bertanya langsung kepada anaknya. Kenapa malah memilih wanita yang memang sembarangan. "Kenapa kamu malah memilih dia?" "Karena itu pilihanku!" Aldi menjawabnya dengan sekenanya saja. Dia memang saat ini sudah memilih Nindy. "Apa kamu tidak berpikir nanti papah mu akan marah?" selidik Siska. "Kenapa papah ku akan marah? Dirinya menikah dengan orang biasa seperti dirimu juga bisa?" Siska mengepalkan tangannya, dia sedikit tersinggung dengan ucapan anak tirinya itu. "Jaga ucapan mu!" "Kenapa? Apa kamu tersinggung sekarang?" "Kurang ajar!" batin Siska menatap Aldi dengan tajam. Anak itu kini sudah mulai berani dengan dirinya. Aldi merasa memang sendiri, lalu kini menatap Siska dengan pandangan serius. "Aku pasti akan memenjarakan kamu seperti selingkuhan mu. Tinggal menunggu buktinya dan kamu pasti tidak akan bisa kabur!" Aldi berdiri dengan penuh kemenangan dan tentu saja dengan seringai devil nya itu. Memilih untuk mencari kebenaran Nindy yang pergi ke toilet tadi. Siska menatap kesal kepergian dari Aldi. "sial! Anak itu sudah berani padaku. Sebelum kamu memenjarakan ku, aku akan lebih dulu mengusir mu dari rumah ini." Siska tersenyum dengan penuh arti, dia akan membuat suaminya itu tidak menyukai Aldi. Apalagi dengan wanita yang dipilih oleh pria itu. Dia yakin suaminya akan mudah terhasut oleh dirinya. **** Nindy keluar dari toilet, dia sudah merasa lebih lega atas apa yang dia lakukan. Baru juga membuka pintu, sudah dikejutkan dengan Aldi yang ada di hadapannya. "Pak Aldi mengintip?" "Jaga bicara kamu! Siapa juga yang mau mengintip orang seperti dirimu!" "Lalu untuk apa Pak Aldi berdiri di sana kalau bukan mengintip?" pandang Nindy dengan penuh selidik. "Saya hanya menunggu kamu, khawatir kalau terjadi sesuatu denganmu," ucap Aldi mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Nindy malah tersenyum menggoda Aldi yang menghawatirkan dirinya. Biasanya bosnya itu tidak pernah peduli padanya. Apalagi kalau sedang berada di kantor. Ini adalah keajaiban yang dia temui. "Luar biasa sekali Pak Aldi menghawatirkan saya," seru Nindy. "Sudah, ayo kita ke sana." Aldi malah menarik tangan Nindy kembali menuju ke ruang tamu. Aldi membisikkan sesuatu pada telinga Nindy. "Berbicara jangan formal ketika berada di depan keluarga saya!" "Saya tau!" Nindy mengatakan itu lalu dia kembali berjalan ke arah ruang tamu bersama dengan Aldi. Kali ini di sofa bukan hanya ada Siska, melainkan ada juga seorang pria paruh baya di sana. "Ini dia, wanita yang aku ceritakan tadi," ucap Siska pada pria itu. "Pasti wanita ular itu menghasut papah lagi," batin Aldi berdecih. "Hai om, perkenalan saya Nindy." Nindy kali ini memberanikan dirinya untuk memperkenalkan dirinya. Apalagi pria itu memang mirip dengan Aldi. Bisa dia tebak sendiri kalau pria paruh baya itu adalah ayahnya Aldi. Aldi tersenyum sambil merangkul Nindy, dia sengaja melakukan itu agar terlihat mesra juga dengan Nindy. "Jadi kamu wanita yang bernama Nindy itu. Terlihat cantik, sepertinya kamu juga pekerjaan karir?" tebak Santoso pada Nindy. Nindy tersenyum, dia hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Santos barusan. Nindy tersenyum dengan penuh arti. Dia akan melakukan apapun yang dia mau mulai dari sekarang. Setidaknya semuanya sudah berjalan dengan baik untuk saat ini. "Dia kebetulan bekerja seperti sekertarisku di kantor," jawab Aldi. "Wah bagus kalau begitu, papah menyetujuinya." Aldi tersenyum dengan senang, berbeda dengan Siska yang memang tidak suka. Raut wajahnya menatap Nindy dengan pandangan masam. Lalu dia melihat kearah suaminya. "papah yakin wanita itu baik? Bagaimana kalau dia punya niat buruk dan hanya menginginkan harta keluarga kita saja?" "Mohon maaf Tante, tapi saya bukan orang yang seperti Tante katakan," balas Nindy yang kini membela dirinya sendiri. Dia tidak mau harga dirinya diinjak oleh wanita sombong itu. "Kamu yakin? Saya tidak percaya!" ketus Siska. "Dia beda dengan mamah," balas Aldi. "Udah, kalian ini malah pada ribut!" sergah Santos. "Aku pamit pergi dulu. Terimakasih karena papah sepertinya tidak keberatan jika aku menikah, jadi Minggu depan aku bisa melaksanakan pernikahan ini." Nindy menginjak kaki Aldi, dia terkejut ketika mendengar perkataan dari Aldi barusan. Dia sama sekali tidak menyangka akan hal ini. Kenapa Aldi malah memintanya menikah dengan cepat. "Jangan bilang kamu menghamilinya makanya kalian mau menikah cepat?" tebak Siska dengan pandangan menyelidik. "Kalau iya kenapa?" Aldi menjawabnya dengan cepat. Nindy membulatkan matanya. Tidak menyangka jika bosnya itu akan asal bicara. Bagaimana mereka bisa hamil padahal mereka tidak pernah melakukan apapun juga. "Jadi benar." "Tidak!" Nindy menggelengkan kepalanya, dia membenarkan semuanya. "Sudah yah. Kita pergi dulu." Aldi mengatakan itu lalu menarik tangan Nindy untuk pergi dari tempat ini. Padahal Nindy ingin menjelaskan ke salah pahaman ini. "Kenapa bilang kalau saya hamil?" BERSAMBUNG ______________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN