Aldi mengantarkan Nindy ke apartemen miliknya. Dia sudah bisa nebak apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Entah apa yang dia rasakan. Yang jelas dia masih kesal dengan Aldi. Pria itu malah mengatakan kalau saat ini dia tengah hamil.
"Kenapa Pak Aldi malah mengatakan kalau saya hamil tadi di depan keluarga Pak Aldi?" tanya Nindy dengan perasaan yang menggebu.
"Biar saja, bukannya dengan begitu keluargaku akan menerima kamu?" tanya dia dengan senyuman manisnya.
"Tetap saja, saya tidak terima jika dituduh seperti itu!" ketus Nindy yang memang tidak terima atas semuanya.
Bahkan dia tidak menyangka jika semuanya malah akan jadi ribet. Ah rasanya bahkan dia tidak menyangka kalau apa yang dia lakukan malah jadi rumit.
"Menyebalkan!" maki dia yang kesal.
Nindy akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen. Tanpa dia sadari, Aldi malah mengikutinya dari belakang. Apa yang dia lakukan malah jadi rumit.
"Kenapa Pak Aldi malah ikut masuk?" ketus Nindy ketika menyadari Aldi juga masuk ke dalam ruangan ini. Bahkan dia tidak menyangka apa yang sudah terjadi padanya.
"Suka-suka saya kalau mau ikut ke dalam!"
Aldi mengatakan itu dengan santai, dia menutup pintu apartemen milik Nindy. Dia memang sengaja masuk ke sini.
"Ini sudah malam Pak Aldi. Lebih baik sekarang Pak Aldi pulang saja!" usir Nindy yang memang terlihat tidak suka, apalagi dengan Aldi yang ada di sini.
Bukan tanpa alasan, kalau ada Aldi yang ada di tempat ini maka, dia tidak merasa leluasa. Apalagi dia punya rencana selanjutnya dengan sepupunya.
"Kalau pun saya menginap di sini tidak jadi masalah bukan? Toh kita akan menikah juga akhirnya."
Nindy membulatkan matanya mendengar ucapan dari bosnya itu. Dia tidak salah dengar bukan? Demi apapun juga, dia sudah dibuat kesal sekarang.
"Sial! Apa yang kamu mau sebenarnya?" tanya dia bahkan tidak tau harus melakukan apapun lagi.
"Sudah jangan banyak protes, saya juga sedang malas pulang ke rumah. Apalagi melihat muka ibu tiri saya seperti tadi," sergah Aldi membuat Nindy malah terkejut.
"Ibu tiri?" Nindy menaikan sebelah alisnya karena memang heran dengan ucapan Aldi barusan.
"Mamah Siska. Dia bukan ibu kandung saya."
Dia baru mengetahui tentang ibu tiri Aldi. Jadi wanita yang tadi di rumah Aldi itu bukan ibu kandungnya. Pantas saja tidak ada miripnya sama sekali tadi. Nindy baru mengetahuinya tentang hal ini.
"Lalu ibu kandung Pak Aldi ke mana?" tanya Nindy yang merasa penasaran.
"Ibu kandung saya sudah tidak ada," jawab Aldi.
Nindy jadi merasa bersalah karena sudah menanyakan tentang hal ini. Nindy mengelus lengan Aldi ketika menyadari pertanyaan dirinya.
"Maaf saya tidak bermaksud..."
"Tidak apa."
Aldi hanya tersenyum tipis, lalu melihat ekspresi wajah Nindy saat ini. "Apa kamu tidak keberatan jika nanti tinggal di apartemen saya?" tanya Aldi.
"Pak Aldi punya apartemen?"
"Saya punya, namun memang jarang saya tempati."
"Saya lebih nyaman tinggal di sini," jawab Nindy yang memang sudah satu tahun tinggal di sini. Rasanya juga sudah nyaman jika dia tinggal di tempat ini.
Aldi mengangguk paham, lalu dia melihat kearah Nindy. "Kalau nanti setelah nikah kamu tinggal di sini maka, saya juga akan ikut tinggal di sini."
Nindy terkejut dengan ucapan Aldi barusan. Entah kenapa ucapannya itu membuat Nindy jadi kesal. "No! Saya gak mau tinggal satu rumah dengan Pak Aldi."
"Saya gak terima penolakan Nindy. Lagian akan aneh kalau nanti suami istri tidak tinggal bersama!"
Aldi dengan tegas mengatakan itu pada Nindy. Dia sudah muak tinggal bersama dengan papah dan juga ibu tirinya. Apalagi kehidupannya yang memang selalu diatur. Ini malah membuat kehidupan dirinya yang sudah nyaman.
"Terserah! Sekarang Pak Aldi pulang!"
Nindy mengatakan itu mengusir Aldi, bukan tanpa alasan apapun Nindy melakukan itu. Dia hanya tidak mau jadi omongan tetangga, ini yang membuat dia tidak nyaman.
"Kamu mengusir saya Nindy?"
"Saya gak mau nanti para tetangga malah membicarakan kita yang macam-macam. Lebih baik Pak Aldi menginap saja di hotel untuk sementara," ucap Nindy.
Aldi menghela nafas panjang, saat ini mungkin saja dia yang akan mengalah. Tidak ingin protes dan banyak bicara lagi untuk saat ini.
"Baiklah, saat ini saya akan menyewa hotel saja. Besok kita akan datang menemui kedua orangtua kamu."
"Iya."
Nindy hanya menjawabnya dengan singkat. Lalu Aldi pergi meninggalkan dirinya dengan begitu saja. Setidaknya semuanya sudah jadi lebih baik.
Aldi akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Nindy hanya tersenyum dengan tersenyum manis. Akhirnya Aldi sudah keluar dari apartemen miliknya.
Dia harus mempersiapkan untuk dirinya besok. Bahkan dia tidak tau harus melakukan semuanya dengan baik. Jika sudah jadi begini maka, dia akan melakukan semuanya dengan baik.
"Bagaimana besok. Aku bagus menghubungi Lukas."
Nindy mengambil ponselnya dan kali ini dia memutuskan untuk menghubungi sepupunya yang memang sudah bisa membantu dirinya.
"Hallo Lukas?"
"Iya Nindy, kamu pasti ingin menanyakan tentang orang yang jadi orang tua kamu kan?" tebak Lukas.
"Bagaimana?"
Dia hanya tersenyum dengan sekilas saja, jika memang dia merasa lebih baik maka dia akan melakukan semuanya.
"Kamu tenang saja kalau tentang hal itu. Semuanya sudah aku atur kok."
"Syukurlah, kamu berikan semua hal tentang diriku termasuk dengan kebiasaan ku. Aldi takut akan menayangkan tentang hal itu."
"Baiklah, aku akan menyuruh mereka. Besok dia akan datang ke apartemen kamu."
"Baik. Aku tunggu!"
Nindy memutuskan sambungan teleponnya, akhirnya dia sudah bisa nebak apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Tidak ada hal yang perlu dia khawatirkan lagi.
Nindy masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasur miliknya. Lalu dia mengambil foto yang ada di bawah bantalnya. Ini adalah foto kedua orangtuanya.
"Ayah, aku berjanji akan membebaskan mu dan mencari kebenaran bunda," sumpah Nindy berbicara pada sebuah foto itu.
Nindy bukan hanya kehilangan ayahnya yang masuk penjara, bunda juga menghilang dan dia tidak tau keberadaan bundanya ada di mana.
"Aku rindu bunda," gumam Nindy sambil mengelus sebuah foto yang memang bisa dikatakan kalau itu adalah foto lama.
Nindy kembali menyimpan foto tersebut, dia akan melakukan apa yang akan dia lakukan saat ini. Termasuk mencaritahu tentang penyebab ayahnya yang masuk penjara. Nindy yakin kalau ayahnya adalah orang baik. Dia akan mencari kebenarannya.
Mungkin dengan menikah dengan Aldi, dia akan lebih mudah meminta data-data tentang perusahaan. Apalagi selama ini memang tidak ada yang berani mengambil dokumen tentang perusahaan kecuali pihak keluarga.
"Aku pasti akan menemukan buktinya. Semoga Pak Aldi tidak mencurigai ku besok."
BERSAMBUNG