Bab 6 Rencana Untuk Aldi

994 Kata
Aldi akhirnya memutuskan untuk datang ke apartemen milik Nindy. Apalagi wanita sudah tadi mengirim dia pesan kalau keluarganya sudah datang. Aldi tersenyum dengan devil, satu hal yang memang dia ketahui. Bahwa Aldi sudah tau kalau ayah Nindy ada di penjara. Lalu siapa yang akan dikenalkan padanya. "Kamu pikir aku bodoh Nindy, aku sudah tau semuanya. Tapi aku ingin melihat seberapa jauh dirimu bisa membohongiku terus," gumam Aldi dengan senyuman penuh artinya. Aldi sudah berdiri di apartemen Nindy. Dia mencoba menekan bel nya agar wanita itu keluar. "Hai, ayo masuk." Nindy tersenyum menyambut Aldi dan mempersiapkan dirinya untuk masuk. Aldi tentu saja sangat senang. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan ini. Sudah ada berdiri dua orang yang kini ikut menyambut dirinya. Aldi hanya tersenyum tipis. "Wah ini yang namanya nak Aldi yah?" ucap wanita paruh baya itu. "Iya, nama saya Aldi." "Tidak usah berbicara formal seperti itu. Oh yah saya ayahnya Nindy. Panggil saja Om Bagas." Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya pada Aldi. Aldi membalas jabatan tangan itu. "Baik Om, aku tidak akan formal. Namaku Aldi om." "Ini istriku, ibunya Nindy, namanya Rani." Aldi melihat kedua orang yang ada di hadapannya. Aldi menjabat tangan Rani, lalu kini matanya melihat kearah Nindy. Dia melihat wanitanya dengan sekilas saja. "Kalian tidak terlihat mirip," ucap Aldi. Nindy mendekati Aldi ketika dia mengatakan hal seperti ini. Sudah dia duga kalau Aldi pasti akan curiga padanya. Beruntung sekali dia sudah berancang-ancang memberikan jawaban yang bagus agar Aldi percaya. "Kebetulan mereka berdua adalah orang tua angkatku." "Orang tua angkat yah," gumam Aldi. Jelas Aldi memang sengaja mengatakan itu pada Nindy. Wanita itu memang pintar dalam menjawab pertanyaan dari dirinya. Bahkan dia sendiri tidak bisa nebak apa yang terjadi padanya. Kenapa malah semuanya nambah beban untuk dirinya. Kali ini dia hanya ingin mencoba memperbaiki semuanya agar jadi lebih baik. Tidak untuk melakukan sesuatu yang kurang baik. "Ayo silahkan duduk." Rani menyadari hal yang aneh pada Aldi, dia hanya tidak ingin ketahuan pura-pura kalau tidak maka, Nindy tidak akan membayarnya. "Lebih baik duduk." Bagas juga melakukan hal yang sama, mempersilakan Aldi untuk duduk. Nindy tersenyum karena dua orang suruhannya itu sudah mengerti tanpa dia suruh. Syukurlah artinya Lukas memberikan orang yang cukup cerdik. Aldi duduk di kursi bersama dengan Nindy. Dia menggenggam tangan Nindy yang membuat dia malah merasa sedikit risih. "Kenapa tangan saya digenggam?" bisik Nindy pada telinga Aldi. "Agar mereka tidak curiga," jawab Aldi dengan santai. Nindy hanya mendengus kesal, dia mencoba untuk melepaskan tangannya yang dicekal oleh Aldi tapi pria itu malah menguatkan cekalan tangannya. "Nak Aldi mau minum apa? Biar nanti Tante ambilkan." "Apa aja Tante," jawab Aldi. "Baiklah kalau begitu. Tante mau ambilkan dulu." Rini akhirnya pergi ke dapur. Dia mengedipkan matanya pada Nindy sekilas sebelum akhirnya pergi. "Om Bagas, jadi aku ingin meminta izin untuk menikahi Nindy. Apa Om Bagus mengizinkan?" pinta Aldi. Bagas terdiam sejenak, lalu dia melirik kearah Nindy meminta jawaban dari wanita itu. Dia tidak bisa mengambil keputusan dengan begitu saja. Apalagi dia hanya orang suruhan saja. "Kalau Om sih terserah Nindy saja. Yang nanti menjalankan Nindy bukan om." Nindy tersenyum puas mendengar apa yang dikatakan oleh Om Bagas. Tanpa dia sadari, Aldi sudah melirik kearah Nindy sekarang. "Kalau Nindy sudah pasti akan menerima aku om." Aldi tidak bertanya dulu pada Nindy, membuat wanita itu mendengus kesal. Pria itu malah mengambil keputusan sendiri tanpa meminta bantuan dulu malah padanya. Ini yang membuat dia malah jadi kesal. "Menyebalkan!" "Aku masih bisa mendengarnya Nindy." Aldi mengatakan itu dengan santai. Bahkan tersenyum puas ketika mendengar makian dari Nindy. Dia bahkan merasa ingin tersenyum sekarang. "Pak Aldi bahkan tidak meminta persetujuan dari saya dulu!" "Jangan berbicara formal," bisik Aldi pada telinga Nindy. Nindy tidak peduli, lagian Om Bagus juga orang suruhannya, jadi tidak peduli jika dia berbicara formal tidak romantis pun. Hanya saja Aldi yang pasti nanti malah akan curiga padanya. "Iya bawel!" "Apa kamu bilang?" Aldi malah melotot pada Nindy yang sudah berani mengatai dirinya. "Apa?" balas Nindy tidak mau kalah. "Kamu bilang saya bawel? Kamu tuh yang bawel!" ketus Aldi. Aldi tidak menyadari kalau ada Om Bagas juga masih ada di sini. Tapi pria itu tidak banyak berkomentar sama sekali ketika dia yang sedang berdebat dengan Nindy. Aldi paham sekarang. Sepertinya memang dugaannya benar kalau orang yang ada di hadapannya itu memang sudah tau hubungannya dengan Nindy. Lalu untuk apa juga dia minta izin tadi? Apalagi dia tau sendiri, siapa orangtuanya Nindy yang sebenarnya. "Kenapa malah diam?" tanya Nindy melihat kearah Aldi yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Padahal tadi mereka sedang berdebat. "Maaf yah om. Nindy, aku sepertinya pamit dulu." "Loh kok buru-buru?" tanya Bagus. "Kebetulan aku ada urusan Om. Makasih yah Om sudah merestui hubunganku dengan Nindy. Aku pamit dulu sayang." Aldi mengatakan itu sambil tersenyum dengan penuh arti sambil mengedipkan matanya. Nindy bahkan tidak menyangka sama sekali kalau semuanya jadi seperti ini. "Kenapa?" bisik Nindy yang penasaran. Kenapa juga pria itu malah mengajak dirinya untuk segara pulang? Kenapa sekarang Nindy malah curiga dengan Aldi. Dia yakin kalau pria itu pasti menyimpan sesuatu. "Ada urusan. Sudah yang penting saya sudah mendapat restu." Aldi mengatakan itu sambil melawati Nindy. Sebelum akhirnya pria itu pergi keluar dari apartemennya. Nindy melihat kepergian dari Aldi saja, dia sedikit bernapas lega. "Dia sudah pergi? Padahal aku membawakan minuman untuknya," gumam Rani yang datang membawakan minum. "Aku juga gak tau, tapi makasih karena Tante dan Om sudah mau membantu aku." Nindy mengatakan itu sambil tersenyum. Orang suruhan Nindy adalah Om dan Tante nya Lukas. Saudara dari ibunya. Setidaknya dia sudah dekat dan pasti tidak akan canggung dan membuat Aldi curiga. Nindy juga tak sepenuhnya berbohong kepada Aldi tentang orang tua angkatnya. Karena selama ini Rani dan Bagas yang menjaga Nindy. "Aku pun heran. Tapi sudahlah." "Kamu yakin akan menikah dengan dia nak?" tanya Bagas dengan hati-hati. "Iya Om." "Kamu tidak lupa bukan, kalau ayah kamu masuk penjara gara-gara keluarga mereka? Om berhadap kamu tidak akan gegabah." "Om tenang saja, aku sudah punya rencana," seringai Nindy dengan penuh arti. BERSAMBUNG __________________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN