Ares menatap Valora yang duduk di hadapannya. Senja mulai turun, mewarnai langit dengan semburat jingga, dan angin sepoi-sepoi menyapu wajah mereka di sudut restoran yang sepi. Restoran itu menyediakan meja di luar ruangan, memberikan suasana yang lebih tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota. Ares sengaja memilih tempat ini, berharap keheningan alam bisa melunakkan hati Valora. Tangannya, yang sedikit gemetar, terulur dan menggenggam tangan Valora dengan lembut. Sentuhan itu membuat Valora menatapnya, alis terangkat, sorot mata penuh tanya. Hatinya sudah lama tertutup untuk Ares, tetapi ada sesuatu di dalam diri Ares yang terlihat berbeda kali ini—sesuatu yang membuat Valora tetap duduk dan mendengarkannya, meski hatinya berteriak untuk pergi. Ares menelan salivanya dengan susah payah, s

