Aroma manis kue yang baru saja matang selalu menyelimuti udara. Toko itu tidak hanya menjadi tempat pelanggan membeli roti dan kue, tetapi juga saksi bisu dari perjalanan hidup Valora dan putranya, Arkan. Di tengah kesibukan toko yang ramai, ada sebuah cerita yang lebih dalam dari sekadar adonan dan gula—cerita tentang cinta, penyesalan, dan kerinduan. Hari itu, seperti biasa, Valora sibuk melayani pelanggan yang berdatangan. Dengan senyum yang selalu ia paksakan agar tampak ceria, ia menyajikan kue dengan hati-hati, memastikan setiap pelanggan merasa puas. Namun di sudut toko, Arkan, putranya yang berusia tiga tahun, duduk di kursi kecil dekat jendela besar. Matanya yang bulat menatap kosong ke arah jalan, menunggu sosok yang tidak kunjung datang. "Ma, Om Ares mana?" tanyanya dengan sua

