Hujan rintik-rintik membasahi trotoar di depan apartemen tua yang berada di tengah kota. Ares berdiri di depan pintu, memegang plastik berisi martabak hangat, gorengan yang masih mengepul, dan satu kotak ayam goreng. Tubuhnya sedikit menggigil karena angin dingin yang menusuk. Tapi bukan hawa dingin yang membuat hatinya bergetar—melainkan perasaan cemas yang menggelayut sejak ia memutuskan untuk datang ke tempat ini. Tangannya gemetar ketika ia mengetuk pintu. Suara ketukan itu menggema samar di lorong yang sepi. Sesaat kemudian, pintu terbuka. Bapak berdiri di sana, tinggi dan tegas, menatap Ares dengan sorot mata yang dingin. Tatapan yang seolah-olah bertanya mengapa Ares kembali datang, meski tak ada satu kata pun yang diucapkan. Ares menundukkan kepala, mencoba tersenyum walau canggu

