Ares tersenyum tipis saat membuka pintu kaca toko kue kecil bernama *Sweet Home Arkan Bakery*. Aroma manis vanila dan karamel langsung menyambutnya. Toko itu tampak hangat, dengan dekorasi sederhana yang dihiasi bunga-bunga kering dan lampu kuning yang redup. Di salah satu sudut ruangan, ia melihat seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun duduk di kursi tinggi, sedang mengunyah kue dengan wajah ceria. Itu adalah Arkan, anaknya. Ares memperlambat langkahnya, mencoba mengatur napas agar tetap tenang. Hatinya berdebar keras, bukan karena Arkan, tetapi karena seseorang yang selalu menolak kehadirannya. Ia tahu Valora, mantan kekasihnya sekaligus ibu dari Arkan, pasti tidak akan senang melihatnya di sini. Namun, ia tak peduli. Setiap kali ia melihat senyum Arkan, semua rasa bersalah dan pe

