Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Ares memarkirkan mobilnya di depan apartemen sederhana yang ditempati Valora dan Arkan. Lampu-lampu kota masih gemerlap, namun suasana sekitar terasa sepi, seperti mendukung keheningan di antara mereka. Hanya deru mesin mobil yang masih terdengar sebelum Ares mematikan mesinnya. Di kursi belakang, Arkan terlelap dalam pelukan sang ayah, napasnya teratur dan lembut. Tubuh kecilnya diselimuti jaket hangat, namun wajah mungil itu tetap terlihat letih. Hari ini mereka bertiga menghabiskan waktu bersama—hari yang penuh tawa, canda, dan kehangatan yang perlahan mengisi kembali celah-celah kosong dalam hati mereka. Ares keluar dari mobil, mengangkat Arkan dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Valora berdiri di sisi mobil, menatap pemandang

