“Ma…maaf Din, kita di sini aja, aku lebih suka kalau kita di…di luar aja,” ucapku terbata-bata. Sungguh aku sedang tidak menghendaki untuk berbuat macam-macam. “Ya udah, di sini aja,” balas Dinda dengan senang hati. Kami pun melanjutkan obrolan dari hati ke hati dengan perasaan yang sangat bahagia. Ketika aku sedang bercerita tentang masa sekolahku di Bogor, tiba-tiba Dinda menoleh dan menatap mataku dengan sangat lekat. Mata yang bagaikan matahari itu bersinar sangat indah dan sukses membuatku terpesona. Perlahan, Dinda mendekatkan bibirnya ke bibirku, matanya perlahan mulai terpejam hingga akhirnya bibir kami bertemu. “Aku ingin dicium oleh cowok idola di dua sekolah,” ucapnya penuh harap. “Moduuuus,” bisikku seraya mengikuti keinginannya dan tak lama kemudian desahan dari mulut