"Ayah?" Lucian langsung berdiri ketika melihat ayahnya masuk. Masih di tempatnya, Lucian melirik Dinda yang masih bersembunyi di kolong meja. Sembari menarik-narik celananya guna menutupi tubuhnya. Gadis bodoh! "Dimana gadis itu? Kenapa tidak memperkenalkannya pada ayah?" "Gadis?" Bukan hanya Dinda, Lucian juga mulai panik sekarang. "Gadis itu ...." "Gadis itu sedang bekerja Tuan besar, beliau bekerja di staff perencanaan di perusahaan ini." Sekertaris Roy mencoba membantu tuanya. Namun, bukannya membantu. Ucapan Sekertaris Roy malah menambah masalah. "Bekerja? Di staf perusahaanmu?!" Albertson menggeleng tak percaya. "Ternyata kamu kejam juga, bagaimana dia mau menyukaimu!" lanjut Tuan Albertson, mencoba menghardik putranya. "Ayah, bukan begitu. Aku bermaksud ...." "Sudah cukup

