12. Sebentar Lagi, Luna!

1016 Kata

Sore itu langit di luar jendela gedung Mahendra Sentra Utama mulai menguning. Aksa masih berada di ruangannya, berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap kota. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah, tapi pikirannya justru penuh. Ketukan di pintu terdengar. “Masuk,” ucap Aksa tanpa menoleh. Pintu terbuka dan Jodi melangkah masuk dengan tablet di tangan. Tatapannya langsung tertuju pada punggung sang atasan yang masih menghadap keluar. “Pak?” panggil Jodi hati-hati. “Ada apa?” Aksa akhirnya menoleh. “Saya mau melaporkan tentang Aluna.” Sekejap saja sikap Aksa berubah. Bahunya yang tadinya rileks langsung menegang. Ia berbalik sepenuhnya, menatap Jodi dengan sorot mata yang tak bisa menyembunyikan antusiasnya akan berita apa yang hend

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN